Selama dua periode kepemimpinannya, pelatih asal Perancis ini berhasil membawa Los Blancos mendominasi Eropa.
Kunci keberhasilannya ternyata bukan pada pendekatan otoriter, melainkan pada pemahaman mendalam terhadap kebutuhan para pemainnya.
Dalam sebuah wawancara di saluran YouTube Hamidou Msaidie, Zidane menjelaskan bahwa seorang pelatih di klub sebesar Real Madrid harus mampu menempatkan kepentingan pemain sebagai prioritas utama guna membangun tim yang solid.
"Di Real Madrid, kami sepenuhnya berada di bawah kendali para pemain. Bagi saya, inilah yang menciptakan tim yang kuat: berada di sana untuk pemain. Jika Anda tidak memahami hal ini, Anda tidak akan bertahan dalam profesi ini. Kami ada di sana untuk mendukung mereka; Anda harus menunjukkan kepada mereka secara konkret bahwa Anda ada di sana untuk mereka," ungkap Zidane.
Bagi peraih gelar juara Piala Dunia 1998 ini, profesi pelatih menuntut pembuktian nyata dalam memberikan dukungan teknis maupun mental kepada setiap individu di dalam skuad.
Zidane menekankan bahwa keberhasilan penerapan taktik dan ide-ide pelatih sangat bergantung pada rasa hormat yang diberikan oleh para pemain. Tanpa harmoni, keputusan teknis seperti porsi latihan tidak akan membuahkan hasil maksimal.
"Agar ruang ganti menerima ide-ide Anda dan apa yang ingin Anda terapkan, sangat penting bahwa para pemain menghormati Anda. Jika tidak ada harmoni dalam segala hal yang Anda usulkan, mulai dari latihan hingga setiap keputusan lain, sesuatu akan selalu hilang. Dengan kami, saya pikir mereka benar-benar menikmati waktu mereka di setiap level," tuturnya.
Zidane mengenang masa-masa awal kepemimpinannya saat tim sedang berada dalam periode sulit. Fokus utamanya kala itu adalah memulihkan harga diri dan kepercayaan diri para pemain melalui struktur kepelatihan yang tepat.
“Kami menanamkan banyak kepercayaan pada kelompok ini: mereka baru saja melewati periode sulit dan membutuhkan untuk memulihkan harga diri, kebugaran, dan segala hal. Kami menciptakan struktur yang memungkinkan mereka memulihkan kepercayaan diri ini. Ketika seorang pemain kompetitif, senang berlatih, dan siap bertanding, memenangkan tiga Liga Champions menjadi konsekuensi alami,” pungkas Zidane.
Pendekatan humanis dan penuh empati inilah yang pada akhirnya membawa Real Madrid mencetak sejarah dengan meraih hattrick gelar Liga Champions secara beruntun, sebuah pencapaian yang hingga kini sulit disamai oleh pelatih mana pun.
Editor : Redaksi Lombok Post