LombokPost - Sergio Cenceicao, mantan pelatih AC Milan mengatakan tidak mudah menjadi seorang pelatih Rossoneri.
Dia mengingatkan, AC Milan adalah klub penuh historis dan legendaris, juga memiliki basis penggemar yang besar.
Sehingga siapa pun pelatih yang bekerja di AC Milan dituntut untuk bermain di level tingkat tinggi, dan kesempatan dia waktu itu dianggap rumit.
Baca Juga: AC Milan dan 4 Tim Lain Berebut 3 Tiket Liga Champions, Napoli, Juventus, AS Roma, dan Como
Sergio Conceicao lantas membandingkan situasinya di Porto, di sana dia telah memenangkan banyak hal, tetapi suasananya berbeda, karena dia memiliki seorang presiden yang terus mempercayainya.
Selain itu, penggemar Porto sangat terstruktur dan terorganisir dengan baik, dan perubahan yang dia alami selama di AC Milan, itu sangatlah tidak mudah.
“Situasi saya ketika berhasil memenangkan trophy Piala Super, lalu meraih hasil seri dengan Cagliari di liga, sudah cukup untuk menghantam saya dengan rumor-rumor miring yang mulai beredar, tentang siapa sosok yang akan menggantikan saya, dan tak satu pun dari anggota manajeman klub ada yang keluar membela saya untuk menyangkal rumor itu," menangnya saat ia dalam situasi terpojok di AC Milan.
Baca Juga: AC Milan dan Barisan Pemain Baru yang Gagal Penuhi Ekspektasi
Lalu Bagaimana keadaan para pemain pada momen krusial saat itu? Sergio Conceicao tahu bahwa ketidakstabilan di lingkungan juga datang ketika itu.
Tidak mudah bermain dengan mental pemain yang turun, ketika kelompok suporter AC Milan di Curva Sud meninggalkan tribun stadion.
Dengan media sosial, penggemar, jurnalis, media dianggapnya berhasil menghancurkan mental skuad AC Milan.
Baca Juga: Bukan Reformasi, AC Milan di Ambang Revolusi
Apa yang dikatakan tentang AC Milan selalu menjadi topik tiap pekan, intinya jika masyarakat dan basis penggemar tidak kuat jika terjadi penurunan performa para pemain, maka ruang ganti pun tidak dapat kuat dan terkonsentrasi. (yuk)
Editor : Prihadi Zoldic