Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Gaya Main Kuno AC Milan "Sukses" Menggali Kuburnya Sendiri

Prihadi Zoldic • Senin, 25 Mei 2026 | 09:35 WIB
BUKAN LIGA CHAMPIONS: AC Milan akan bermain di Liga Eropa musim depan. (Istimewa)
BUKAN LIGA CHAMPIONS: AC Milan akan bermain di Liga Eropa musim depan karena hanya finis keenam. (Istimewa)

 

LombokPost - Diobok-obok Cagliari di kandang sendiri, penampilan AC Milan benar-benar memalukan. 

Dari tim yang sempat bermimpi Scudetto karena bertengger cukup lama di peringkat 1, AC Milan mengakhiri kompetisi di urutan 6.

Bahkan target lolos ke Liga Champions tak tercapai, AC Milan hanya berhak mengikuti Liga Eropa yang merupakan kasta kedua. 

Baca Juga: Sudah Seperti Kiamat Kecil, AC Milan Batal ke Liga Champions, Potensinya: Luka Modric Pergi, Massimiliano Allegri Dipecat, Leon Goretzka Batal

AC Milan kalah 1-2 dari Cagliari di pekan pamungkas Serie A dan tiket Liga Champions musim depan raib.

Sebuah hasil sekaligus cermin dari institusi yang sedang runtuh dari dalam, yang lebih menyayat hati bukan skornya, melainkan caranya: AC Milan dipermalukan di San Siro oleh Cagliari yang sudah tidak mengejar apa-apa.

Cagliari datang ke markas AC Milan tanpa tekanan apa pun, sudah memastikan diri bertahan di Serie A, mereka bermain lepas.

Baca Juga: Semakin Banyak Nama yang Dikaitkan dengan AC Milan, Beberapa Berstatus Bebas Transfer

AC Milan yang butuh menang justru tampil seperti tim yang takut kalah, bukan tim yang ingin menang, hasilnya, perbedaan mentalitas itu mematikan.

PILU: AC Milan kalah di laga terakhir dan gagal lolos Liga Champions. (Istimewa)
PILU: AC Milan kalah di laga terakhir dan gagal lolos Liga Champions. (Istimewa)

 

Pelatih AC Milan Massimiliano Allegri selama ini selalu membela dirinya sebagai seorang yang realistis, pragmatis, menang dengan cara apa pun tetaplah kemenangan.

Tapi kini terbukti, pragmatisme yang tidak adaptif pada akhirnya cuma jadi nama lain untuk pasif.

Baca Juga: AC Milan dan Penentuan the Last Dance Serie A

Dalam lima laga terakhir Serie A, AC Milan hanya meraih dua kemenangan, dua kekalahan, dan satu imbang, menunjukkan klub ini bukan tim besar yang mengejar kemenangan. 

Di tengah era sepak bola yang semakin menekankan pressing intensitas tinggi semisal Napoli ala Antonio Conte hingga Como ala Cesc Fabregas, AC Milan masih bertumpu pada struktur defensif reaktif.

Oleh AC Milan bola dikuasai, tapi tanpa tujuan, transisi lambat, lini serang tergantung inspirasi sesaat dan ketika bertemu llawan bermain tanpa tekanan seperti Cagliari, kelemahan ini jadi fatal.

Baca Juga: Ini 5 Nama yang Dikaitkan dengan AC Milan, yang Pertama Hampir Pasti

Tidak ada urgensi dalam serangan, tidak ada agresivitas untuk membongkar blok pertahanan rendah lawan, AC Milan tampak tak bernyawa. 

Massimiliano Allegri seperti biasa menggunakan formasi 3-5-2, terus percaya dengan Santiago Gimenez, striker AC Milan yang membuat rekor memalukan nihil gol selama semusim. 

LIGA EROPA: AC Milan gagal mengamankan tiket Liga Champions. (Istimewa)
LIGA EROPA: AC Milan gagal mengamankan tiket Liga Champions. (Istimewa)

 

Massimiliano Allegri yang katanya hebat lebih memilih mencadangkan Rafael Leao dan Christian Pulisic, topskor pertama dan kedua AC Milan dengan 9 dan 8 gol. (yuk) 

Editor : Prihadi Zoldic
#Rafael Leao #liga champions #ac milan #Santiago Gimenez #massimiliano allegri