Infantino Siapkan Skema Saham Bisnis Piala Dunia kepada Investor, UEFA Murka dan Sebut FIFA Menjual Sepak Bola

Akbar Sirinawa • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 06:45 WIB
Internal FIFA memanas! Sejumlah negara dikabarkan tarik dukungan untuk Gianni Infantino usai sanksi kontroversial Folarin Balogun.
Gianni Infantino.

 

LombokPost-FIFA membuka pintu bagi perusahaan dan investor swasta untuk masuk ke bisnis komersial sepak bola dunia. Organisasi pimpinan Gianni Infantino itu berencana menjual saham minoritas anak usaha baru bernama FIFA Forward Enterprise.

Skema itu bukan penjualan saham organisasi FIFA. Investor hanya akan membeli kepemilikan pada anak usaha yang mengelola bisnis dan operasional turnamen FIFA.

FIFA menaksir nilai awal FIFA Forward Enterprise mencapai USD 20 miliar. Penjualan saham minoritas ditargetkan menghimpun dana hingga USD 4,2 miliar pada 2026.

FIFA berencana menawarkan kepemilikan hingga 20 persen kepada investor luar. Saham itu tidak memberikan kendali dan kewenangan operasional kepada pemegangnya.

Baca Juga: Muncul Desakan Final Piala Dunia 2026 Diulang, FIFA Buka Penyelidikan Disipliner

FIFA Forward Enterprise akan menggabungkan berbagai sumber pendapatan komersial. Cakupannya meliputi hak siar, sponsor, tiket, lisensi, dan penyelenggaraan turnamen.

Pengelolaan itu mencakup kompetisi sepak bola putra, putri, dan kelompok usia. Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub termasuk dalam portofolio bisnisnya.

Meski mengundang investor, FIFA berjanji tetap memegang kendali penuh. FIFA juga mempertahankan kewenangan atas regulasi, kalender pertandingan, dan keputusan olahraga.

Investor luar hanya memiliki saham minoritas tanpa peran operasional. FIFA menegaskan mereka berinvestasi pada anak usaha, bukan membeli kepemilikan FIFA.

Rencana itu masih membutuhkan dukungan mayoritas dari 211 asosiasi anggota. Dewan FIFA juga harus memberikan persetujuan sebelum skema berjalan.

FIFA ingin memakai dana investasi untuk meningkatkan pembiayaan pembangunan sepak bola. Setiap asosiasi anggota dapat mengakses tambahan modal satu kali hingga USD 20 juta.

Alokasi FIFA Forward untuk periode 2027–2030 juga direncanakan meningkat. Nilainya naik dari USD 8 juta menjadi USD 20 juta bagi setiap asosiasi anggota.

FIFA merencanakan alokasi USD 22 juta untuk periode 2031–2034. Jumlahnya kembali meningkat menjadi USD 24 juta pada periode 2035–2038.

Bersama program lain, FIFA menargetkan pembiayaan pembangunan melampaui USD 10 miliar. Dana itu akan mendukung infrastruktur, pelatih, tim nasional, kompetisi, sepak bola akar rumput, dan sepak bola putri.

Infantino menilai sisi komersial sepak bola membutuhkan struktur khusus dan lebih terfokus. Nilai ekonominya kemudian dapat dibagikan lebih luas ke seluruh dunia.

Baca Juga: Meski Pindah ke Real Madrid, Chelsea Tetap Tampung Dana Segar FIFA Berkat Marc Cucurella

Menurut Infantino, setiap asosiasi anggota berhak mendapat kesempatan membangun sepak bolanya. Ia menyebut skema itu sebagai upaya demokratisasi sepak bola dunia.

FIFA menggandeng bank investasi JPMorgan untuk mencari investor luar. OpenEconomics turut terlibat sebagai penasihat dalam pembentukan entitas baru.

Thrive Eternal diperkirakan menjadi salah satu investor utama. Kendaraan investasi itu diluncurkan Thrive Capital yang didirikan Joshua Kushner.

Namun, rencana FIFA langsung memicu penolakan keras dari UEFA. Badan sepak bola Eropa itu mempertanyakan transparansi dan dampak investasi swasta.

UEFA menilai tata kelola sepak bola tidak pantas menjadi komoditas. Investor dikhawatirkan dapat menekan keputusan mengenai turnamen dan kalender pertandingan.

“Jiwa dan tata kelola sepak bola bukan aset untuk diperdagangkan. FIFA tidak berhak menjualnya,” kata UEFA.

UEFA juga meminta seluruh asosiasi nasional mencermati rencana FIFA. Perhatian serupa diminta dari liga, klub, pemain, suporter, dan pemerintah.

Langkah itu bukan upaya pertama Infantino menarik modal swasta. Pada 2018, ia pernah merancang pendanaan USD 25 miliar bersama SoftBank.

Dana itu akan membiayai perluasan Piala Dunia Antarklub dan liga antarnegara. Namun, rencana gagal memperoleh dukungan cukup, terutama dari Eropa.

Nasib FIFA Forward Enterprise kini bergantung pada asosiasi anggota dan Dewan FIFA. Tanpa persetujuan mereka, FIFA belum dapat menjual saham kepada investor swasta.

 

Editor : Akbar Sirinawa
FIFA Forward Enterprise investasi sepak bola gianni infantino FIFA uefa