BIMA-Harga jagung di tingkat petani anjlok. Dari hari ke hari, harga jagung kian turun.
Sebelum lebaran, harga jagung bertahan di angka Rp 4.500 per kilogram. Kini, harga jagung terjun hingga Rp 4 ribu per kilogram. ’’Harga di gudang sekitar Rp 4.350. Jadi, di tingkat petani sekitar Rp 4.000,’’ ungkap petani di Desa Punti, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima Fajrin, Senin (9/5).
Harga jagung ini otomatis merugikan petani. Tidak sebanding dengan modal. Apalagi, petani sebelumnya membeli pestisida dan pupuk dengan harga mahal.
’’Kalau harganya seperti ini, kami rugi. Kalau pun untung, itu tidak banyak,’’ keluh dia.
Meski harga jagung turun, beberapa petani tetap menjualnya. Seperti Suryadin. Dia sudah melepas jagung dengan harga Rp 4.000. ’’Syukur kalau naik, jika turun, maka kami akan lebih rugi lagi. Makanya saya jual sekarang,’’ ujar dia.
Sementara, warga di Desa Wadukopa, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima memilih untuk menimbun. Mereka menunggu harga jagung stabil. Sembari berharap harga ke depan akan naik.
’’Sebagian petani menyimpan jagung dan menjual kalau harga naik,’’ jelas Sekdes Wadukopa Harwidiasyah.
Pembeli jagung wilayah Donggo-Soromandi Sukardin mengakui kalau harga jagung sudah turun. Sebelum lebaran, dia membeli jagung di tingkat petani dengan harga Rp 4.500 ribu per kilogram. ’’Memang turun sekarang,’’ aku dia.
Dia tidak mengetahui pasti penyebab harga jagung turun. Padahal, di rentang waktu yang sama di tahun 2021 lalu, harga jagung stabil. Tidak ada penurunan harga seperti saat ini.
"Coba tanyakan ke bagian gudang, mungkin mereka yang lebih tahu soal harga," saran Sukardin, yang juga anggota suplier jagung wilayah Soromandi ini.
Harga jagung turun ini berdampak pula pada penghasilannya. Banyak petani yang memilih bertahan dan menunggu harga jagung stabil. ’’Kebanyakan mereka memilih tidak menjual dan baru melepas ketika harga jagung kembali naik,’’ jelasnya.
Kabag Prokopim Setda Kabupaten Bima Suryadin mengatakan, naik turun harga jagung saat panen raya sudah biasa. Karena pada prinsipnya, harga komoditas itu tergantung dari kebutuhan pasar.
"Kalau tinggi permintaan pasar, pasti harga jagung nanti kembali naik. Begitu pun sebaliknya," terang Suryadin.
Dia akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertanbun) dan perusahaan terkait harga jagung. Meminta skema jual beli yang digunakan di lapangan. Apakah sesuai regulasi yang ditentukan atau tidak. "Biar perusahaan dan petani nanti sama-sama untung. Tidak ada yang dirugikan," harap dia.
Sementara, Perusahaan jagung PT Santosa Utama Lestari (SUL) Unit Bima di Desa Bolo, Kecamatan Madapangga belum bisa dikonfirmasi terkait anjloknya harga jagung. Dihubungi via telepon genggam dan pesan singkat WhatsApp, hingga sore kemarin pihak perusahaan belum menjawabnya. (jlo/r8)
Editor : Galih Mps