KOTA BIMA-Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi ancaman baru bagi warga Kota Bima. Terbukti, jumlah warga meninggal maupun yang menderita akibat gigitan nyamuk Aede Aegypti ini terus bertambah.
Data dari Dinas Kesehatan Kota Bima, tercatat empat orang meninggal dunia dan 92 orang positif DBD. Kendati jumlah kasus terus meningkat, namun pemerintah kota belum menetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima Ahmad mengatakan, kasus DBD belum ditetapkan sebagai KLB. Tapi pihaknya tengah berupaya menuju ke status tersebut.
Untuk langkah awal, saat ini sedang disusun telaahan staf untuk dibentuknya Satuan Tugas (Satgas), agar bisa bekerja maksimal menangani DBD. Selanjutnya akan diserahkan kepada wali kota sebagai dasar untuk mengambil keputusan.
Dia mengakui kalau kasus DBD di Kota Bima terus meningkat. Jika sebelumnya ada tiga orang meninggal dunia, kini bertambah menjadi empat orang. ‘’Semuanya adalah anak-anak, usia sekitar 4 hingga 12 tahun,’’ sebut Ahmad, Senin (30/1).
Meningkatnya jumlah warga yang menderita DBD menjadi perhatian pemerintah kelurahan untuk membersihkan lingkungan. Karena itu, warga Kelurahan Lewirato, Kecamatan Mpunda memulai kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan.
Lurah Lewirato A Munir Hariaddin mengatakan, kegiatan ini sebagai upaya pencegahan terhadap penyebaran DBD. Kendati di kelurahan setempat belum ada warga yang dinyatakan positif DBD.
Namun, kata dia, upaya pencegahan tetap harus dilakukan. Sebagai bentuk tindak lanjut dari perintah Wali Kota Bima agar kelurahan gencar membersihkan lingkungan dan mengajak warga menerapkan pola hidup bersih.
‘’Lokasi kegiatan gotong royong ini baru di beberapa lingkungan. Dalam waktu dekat kita akan kembali melaksanakan kegiatan yang sama untuk memberantas sarang nyamuk,’’ katanya.
Penyakit demam berdarah dan chikungunya saat ini banyak menyerang warga Kota Bima. Karena itu, kebersihan lingkungan menjadi perhatian utama setiap warga.
Saat gotong royong, sambung Lurah termuda di Kota Bima ini, perangkat LPM, RT RW, Karang Taruna, Babinsa dan Bhabinkamtibmas serta masyarakat ikut berpartisipasi.
Saat kegiatan disosialisasikan pula gerakan 3M Plus. Yaitu menguras atau membersihkan tempat penampungan air seperti, bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum dan penampung air lemari es.
Kemudian menutup tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi dan lain-lain. Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiak nyamuk. Serta menghindari gigitan nyamuk. "Pencegahan jauh lebih baik dari pada mengobati," tandasnya. (gun/r8)
Editor : Galih Mps