Imbas Lapangan Kerja Makin Sempit, 1,8 Ribu Warga Bima Jadi TKI
M Islamuddin• Selasa, 9 Januari 2024 | 12:40 WIB
Ikhsan Nullatif. (GUNAWAN/LOMBOK POST)
LombokPost-Dinas tenaga kerja dan transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Bima mencatat 1.088 warga jadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sepanjang 2023. Motivasi mereka pilih jadi TKI karena kurangnya ketersediaan lapangan kerja di daerah.
"Mereka pilih jadi TKI Lebih ke untuk mencari ekonomi yang lebih baik, karena di Bima kurang lapangan kerja. Andaikan ada dan gaji tinggi, gak mungkin mereka jauh-jauh dari kampung," kata Kabid Penta Disnakertrans Kabupaten Bima Ikhsan Nullatif, Senin (8/1).
Menurut Ikhsan, pengiriman TKI pada tahun 2023 lalu diakui meningkat signifikan dibanding tahun 2021 dan 2022. Misalnya di tahun 2021, sedikitnya hanya 335 orang karena kendala pandemi Covid-19.
"Dalam dua tahun terkahir meningkat terus dibandingkan saat pandemi Covid-19 melanda wilayah Bima. Misalnya saat Covid-19 di 2021, yang jadi TKI hanya 335 orang," ujarnya.
Seribu lebih TKI yang dikirim tahun 2023 telah ditempatkan pada sejumlah negara. Tidak hanya di negara tetangga Malaysia, tapi juga Hongkong, Taiwan, Arab Saudi hingga Negara Singapura.
Pada negara-negara itu, sebagian besar mereka bekerja di sektor informal seperti sebagai pengasuh lanjut usia (Lansia) dan pembantu rumah tangga. Berikut bergerak di sektor formal seperti perusahaan pabrik, tenaga kesehatan (Nakes) dan lainnya.
Ikhsan mengatakan, gaji para TKI yang bekerja di sektor formal jauh lebih tinggi dibandingkan yang berlaku di Indonesia. Dalam sebulan hingga Rp 13 juta diluar tunjangan dan tambahan yang diperoleh dari lembur.
"Sama juga dengan sektor informal. Sebulan hingga Rp 10 juta, itu belum termasuk tunjangan dan lembur," bebernya.
Ikhsan memastikan, seribu lebih TKI yang dikirim tersebut merupakan mereka yang penuhi semua kualifikasi. Salah satunya memperoleh sertifikat dari pelatihan kerja yang dilaksanakan lembaga terkait. (gun/jlo/r8)