LombokPost - Pesawat Kiamat atau yang dikenal sebagai E-4B Nightwatch resmi dikerahkan di Washington DC. P
esawat komando perang milik Angkatan Udara AS itu dilaporkan telah mendarat di Joint Base Andrews, sebagai bagian dari pengamanan darurat Presiden Donald Trump di tengah ancaman konflik nuklir yang kian memanas antara AS dan Iran.
Kehadiran E-4B Nightwatch yang juga dijuluki Pesawat Kiamat karena kemampuannya bertahan dalam serangan nuklir dan mengendalikan perang global dari udara, langsung memicu spekulasi luas soal potensi keterlibatan militer AS dalam eskalasi krisis Timur Tengah.
Pesawat ini merupakan bagian dari program National Emergency Airborne Command Post (NEACP), dan disiapkan dalam situasi darurat seperti serangan nuklir atau Perang Dunia Ketiga.
Menurut laporan dari sejumlah media internasional, pesawat E-4B dengan callsign ORDER01 melakukan penerbangan tak terduga dari Barksdale Air Force Base di Louisiana menuju Maryland pada Selasa malam (18/6).
Penerbangan tersebut berlangsung dalam pola unik dan misterius, menghindari jalur komersial, dan berakhir di Joint Base Andrews, markas penting militer AS dekat Gedung Putih.
Spesifikasi Pesawat Kiamat
Pesawat Kiamat E-4B Nightwatch didesain dari Boeing 747-200, dengan teknologi tingkat tinggi untuk mendukung kendali militer global.
Dilengkapi lebih dari 67 sistem komunikasi satelit dan antena, E-4B mampu tetap mengudara selama 7 hari tanpa henti berkat kemampuan pengisian bahan bakar di udara.
Pesawat ini bisa membawa lebih dari 110 personel penting, termasuk pejabat militer dan intelijen, serta presiden jika dibutuhkan.
Fungsi utamanya adalah sebagai markas darurat jika Washington diserang atau lumpuh dalam situasi perang.
Trump Bersiap Hadapi Iran?
Kemunculan mendadak Pesawat Kiamat di Washington ini bersamaan dengan laporan bahwa Trump sedang mempertimbangkan serangan udara terhadap fasilitas nuklir Iran.
Beberapa sumber intelijen menyebutkan, ketegangan dengan Iran telah mencapai titik rawan menyusul serangan balasan Israel yang menewaskan ratusan warga Iran bulan lalu.
Langkah pengaktifan E-4B ini diyakini sebagai sinyal bahwa Gedung Putih tak main-main menghadapi krisis nuklir yang berpotensi meluas ke perang global.
Pengganti E-4B Sedang Disiapkan
Meskipun E-4B tetap jadi andalan, Angkatan Udara AS tengah mempersiapkan penggantinya melalui proyek SAOC (Survivable Airborne Operations Center).
Perusahaan Sierra Nevada telah mendapat kontrak senilai USD 13 miliar untuk mengembangkan pesawat E-4C berbasis Boeing 747-8i.
Lima unit sudah dalam proses konversi sejak 2024, dan diperkirakan mulai aktif awal 2030-an.
Dikerahkannya Pesawat Kiamat E-4B Nightwatch di Washington DC menunjukkan bahwa AS benar-benar siaga menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk ancaman nuklir dari Iran.
Langkah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ketegangan global bisa meningkat dalam sekejap, dan semua mata kini tertuju pada Trump dan tindak lanjut militernya dalam beberapa hari ke depan. (***)
Editor : Alfian Yusni