Video yang dibagikan oleh akun Twitter yang diduga milik kerabat keluarga Juliana Marins tersebut, memuat ekspresi kebahagiaan Juliana Marins saat berada di pinggir kawah Gunung Rinjani yang berkabut tebal.
Juliana Marins hanya menunjukkan ekspresi kebahagiaan dan rasa puas akan pemandangan di kawasan Gunung Rinjani. Dia bahkan sempat tertawa terbahak-bahak saat teman wanitanya mengomentari perjuangan Juliana dkk mencapai puncak Gunung Rinjani.
Pendaki wanita asal Brasil, Juliana De Souza Pereira Marins (27) jatuh terperosok ke jurang saat mendaki Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Sabtu (21/6).
Keberadaan korban terdeteksi tiga hari kemudian dalam kondisi meninggal dunia dan jasad Juliana telah dievakuasi Rabu (25/6).
Pada saat proses evakuasi Juliana, pihak keluarganya di Brasil membuat akun Instagram khusus untuk mengikuti perkembangan proses pencarian dan evakuasi Juliana.
Baru dua hari dibuat, akun keluarga Juliana itu langsung diikuti oleh 1,6 juta follower.
Dalam unggahan pada Selasa, 24 Juni 2025, pihak keluarga mengumumkan Juliana telah dijangkau oleh tim SAR dalam keadaan meninggal dunia. Berikut bunyinya:
PENGUMUMAN
Hari ini, tim penyelamat berhasil mencapai lokasi di mana Juliana Marins berada.
Dengan kesedihan yang mendalam, kami menginformasikan bahwa ia tidak selamat.
Kami sangat berterima kasih atas semua doa, pesan kasih sayang, dan dukungan yang telah kami terima.
Walaupun pihak keluarga telah ikhlas, kematian Juliana Marins telah menarik perhatian warga Brasil, dengan jutaan orang mengikuti upaya pencarian dan penyelamatannya yang dramatis, termasuk saat evakuasi jasad Juliana.
Kisah Juliana menyoroti bahaya pendakian yang menantang dan kompleksitas operasi penyelamatan di medan terpencil dan sulit,
Juliana Marins lahir di Kota Rio de Janeiro (eks ibu kota Brasil) berusia 27 tahun.
Walau lahir di Kota Rio de Janeiro, Jualiana.menetap di Kota Niteroi, masih termasuk Wilayah Metropolitan Rio de Janeiro.
Juliana bekerja di sektor kehumasan sebagai publisis.
Juliana merupakan lulusan Periklanan dan Publisitas dari Universitas Federal Rio de Janeiro (UFRJ).
Juliana juga bekerja sebagai penampil pole dance (tari tiang). Dalam akun instagramnya, Juliana mengunggah fotonya saat menari tiang, tarian yang membutuhkan kekuatan dan ketahanan fisik yang tinggi.
Juliana digambarkan sebagai seorang penjelajah dan petualang yang rajin. Dia telah melakukan perjalanan ransel (backpacker) keliling Asia sejak Februari 2025.
Negara yang dikunjunginya adalah Filipina, Vietnam, dan Thailand sebelum tiba di Indonesia. Juliana mendokumentasikan setiap perjalanannya di media sosial.
Menurut seorang teman Juliana, pengacara Flavia Dela Libera Vieira, perjalanan itu adalah mimpi lama dari Juliana.
Mereka bertemu pada tahun 2016 ketika Juliana sempat belajar Hukum di Universitas Federal Uberlandia (UFU).
Flavia menilai, Juliana memiliki karakter yang ramah, ceria, dan menyenangkan.
"Dia sangat bahagia, backpacking adalah sesuatu yang sangat berarti bagi hidupnya, sebuah mimpi, dia selalu sangat ramah dan saya sangat, sangat bahagia untuknya," kata Flavia kepada media lokal Brasil (g1 Triangulo), saat pencarian Juliana masih berlangsung.
Apa yang disampaikan Flavia soal karakter dan keinginan kuat Jualiana untuk melakukan perjalanan ransel (backpacker) keliling Asia sesuai dengan ekspresi Juliana dalam sebuah video rekaman yang beredar belakangan ini.
Video ini diambil beberapa jam sebelum Juliana diketahui jatuh ke jurang.
Video tersebut diambil menggunakan handphone kawan wanitanya. Awalnya camera menyorot wajah Juliana dan kawan wanitanya dengan latar perkemahan rombongan dan kawah Rinjani yang diselimuti kabut tebal.
Video tersebut di posting oleh akun @Estadao di Twitter pada Rabu (25/6), sebuah video rekaman beberapa jam sebelum jualiana diketahui jatuh ke jurang.
Dalam video tersebut, Juliana terlihat sangat cerita. Dia dan teman wanitanya sempat berdialog canda soal pemandangan kabut Gunung Rinjani.
Mereka mengaku cukup khawatir menempuh jalur menuju puncak Rinjani. Namun merasa sepadan dengan pemandangan ketika tiba di puncak.
Sang teman wanita sempat bertanya ke Juliana, demi apa mereka sampai nekat naik ke puncak Rinjani.
"We do it for the view (Kami melakukannya demi pemandangan)," jawab kawan perempuan Juliana sambil mengarahkan camera ke kawah Rinjani yang indah penuh kabut.
Kawan perempuan Juliana terus saja mengulang kalimat tersebut, jika mereka nekat naik ke Rinjani demi view (pemandangan) yang indah dalam gambaram camera.
Juliana yang mendengar ucapan kawan perempunnya langsung terbahak bahagia. Hal ini terlihat saat camera mengarah ke arah wajah Juliana.
Dalam gambaran di camera, kondisi Juliana cukup vit dan happy. Namun siapa sangka saat melanjutkan perjalanan dia kelelahan sehingga harus terpisah dari rombongan dan terjatuh di jurang kawah Gunung Rinjani.
Editor : Siti Aeny Maryam