LombokPost - Unggahan viral dari Gedung Putih yang menampilkan foto Presiden AS Donald Trump mengenakan jubah Superman memicu kontroversi dan perdebatan panas di dunia maya.
Dalam unggahan di akun resmi X (sebelumnya Twitter), Kamis (11/7), Gedung Putih membagikan gambar Donald Trump sebagai Superman, lengkap dengan tagline ala poster film superhero: “Simbol Harapan.
Kebenaran, Keadilan, Gaya Amerika. Superman Trump.” Unggahan Trump Superman itu langsung viral, ditonton 3,6 juta kali dan disukai lebih dari 24 ribu pengguna.
Trump Superman langsung jadi topik panas. Pendukung menyambutnya sebagai bentuk dukungan kuat terhadap pemimpin mereka, menyebutnya "Superman sejati" yang berani dan tangguh.
Namun, tidak sedikit warganet yang menyebut unggahan itu narsis, tidak pantas, dan menyayangkan etika penggunaan akun resmi pemerintah untuk konten meme.
Respons Gedung Putih: Meme ‘Keren’ Tak Dilarang
Menanggapi kritik tajam, pihak Gedung Putih menyatakan tidak ada pelanggaran hukum terkait unggahan tersebut.
Mereka bahkan menyebutnya sebagai “banger memes”—meme keren—yang legal dan sah digunakan untuk meningkatkan keterlibatan publik di media sosial.
"Tak ada larangan konstitusional untuk posting meme lucu," ujar salah satu jubir Gedung Putih seperti dikutip Time.com. Mereka menegaskan unggahan Trump Superman hanyalah ekspresi kreatif.
Namun, langkah ini justru memperkeruh perdebatan antara pendukung dan pengkritik Trump.
Banyak yang menilai unggahan tersebut sebagai pengalihan isu dari berbagai kontroversi yang lebih serius, seperti penanganan kasus Jeffrey Epstein, kebijakan imigrasi, dan respons terhadap bencana alam.
Meme Politik Trump: Antara Cringe dan Strategi
Meme Trump sebagai Superman juga dianggap ironis. Tokoh Superman secara historis digambarkan sebagai imigran dari planet lain yang memperjuangkan keadilan dan kesetaraan.
Sementara itu, kebijakan imigrasi yang diterapkan Trump justru kerap mendapat kritik tajam karena dianggap mengekang imigran.
Para pemerhati budaya pop menyebut bahwa mengasosiasikan Trump dengan Superman bisa menjadi bumerang.
Bahkan Vanity Fair menyebut langkah ini sebagai “penyalahgunaan simbol budaya pop demi propaganda politik.”
Sementara itu, beberapa tokoh konservatif pendukung Trump justru mengecam unggahan itu, menyebutnya terlalu “woke” atau menyimpang dari nilai-nilai MAGA (Make America Great Again).
Namun, aktor Dean Cain, pemeran Superman era 1990-an, mendukung penuh narasi Trump Superman dan mengecam arah politik Superman baru yang dianggap terlalu progresif.
Analisis: Polarisasi Publik Semakin Tajam
Unggahan Trump Superman secara tidak langsung mempertegas polarisasi politik Amerika. Bagi sebagian pihak, meme ini adalah cara jitu untuk membakar semangat basis pendukung menjelang Pilpres.
Namun, bagi yang lain, ini adalah bentuk ketidakwajaran yang semakin menjauhkan pemerintah dari nilai-nilai kenegaraan yang serius.
Meme Trump Superman pun menjadi simbol baru dalam perang budaya dan politik di Amerika.
Netralitas akun resmi pemerintah kembali dipertanyakan, dan publik dibelah antara yang menilai ini sebagai strategi jenius atau sekadar sensasi murahan.
Meme Trump Superman, Strategi atau Blunder?
Hingga hari ini, Trump Superman masih jadi perbincangan panas. Gedung Putih belum menghapus unggahan tersebut.
Apakah ini strategi komunikasi modern atau blunder yang memperparah krisis kepercayaan publik?
Yang jelas, Trump Superman telah menjadi simbol viral baru dalam dunia politik Amerika—dan mungkin, belum yang terakhir. (***)
Editor : Alfian Yusni