LombokPost - Terbongkarnya skandal "Sister Hong" atau "Uncle Red" telah menyebabkan ribuan pria di China, yang menjadi korban dari seorang pria bernama asli Jiao, hidup dalam bayang-bayang ketakutan.
Selain kekhawatiran identitas mereka terbongkar melalui video-video intim yang beredar luas, ada ancaman lain yang jauh lebih mengerikan yang mereka khawatirkan dari Sister Hong.
Jiao, alias Sister Hong, diketahui memikat para korbannya yang juga berjenis kelamin pria melalui jaring akun palsu yang ia tebar di dunia maya.
Menurut pengakuan Sister Hong sendiri, ia telah berhubungan dengan 1.692 pria.
Meskipun polisi menduga angka ini dibesar-besarkan, jumlah korban yang berhasil diidentifikasi memang terbilang banyak.
Skandal ini dengan cepat menarik perhatian publik karena sebagian besar korban disebut sebagai "pria berkualitas tinggi" yakni pria muda dengan penampilan tampan dan tubuh atletis.
Banyak dari mereka tidak menyadari bahwa aktivitas seksual mereka dengan Sister Hong direkam secara diam-diam.
Parahnya, konten asusila tersebut disebarkan tanpa izin para korban, yang umumnya tidak mengetahui bahwa crossdresser yang mereka temui adalah seorang pria, karena Jiao selama ini menyamar sebagai wanita lajang.
Penangkapan "Sister Hong" dan Modus Operandi
Petualangan Jiao alias Sister Hong sebagai influencer berakhir setelah Kepolisian Nanjing membekuknya pada 5 Juli 2025.
Sister Hong ditangkap atas dugaan pelanggaran privasi, penyebaran materi asusila, dan aktivitas ilegal daring, sebagaimana dilaporkan oleh MS News dan South China Morning Post (SCMP).
Di jagat maya, Sister Hong aktif membangun persona sebagai wanita lajang yang memesona.
Sister Hong kerap tampil dengan mengunggah kegiatan memasak, berkebun, dan mempersonakan diri dengan riasan tebal, wig, serta pakaian wanita untuk terlihat feminin.
Meskipun Jiao mampu "memuaskan syahwat" para tamunya, baik pria maupun sesama jenis, Sister Hong ternyata tidak pernah meminta uang tunai dari mereka.
Namun, Sister Hong menyebarkan video tak senonoh yang direkam secara diam-diam melalui grup komunitas online berbayar yang dikelolanya, dengan tarif keanggotaan 150 yuan (sekitar Rp330 ribu).
Ketakutan Mendalam Para Korban: Identitas dan Ancaman Kesehatan
Peredaran luas video-video hubungan intim antara Sister Hong dan ribuan pria yang diklaimnya pernah berhubungan, telah menimbulkan ketakutan mendalam di kalangan para korban.
Selain beredarnya identitas mereka melalui video, ada kekhawatiran lain yang tak kalah menakutkan: potensi penularan HIV/AIDS.
Ribuan pria yang menjadi korban Sister Hong kini hidup dalam kecemasan.
Selain bocornya daftar korban yang dikabarkan mencapai lebih dari 1.600 pria, kekhawatiran akan tertular HIV/AIDS setelah berhubungan intim dengan Sister Hong menjadi bayang-bayang menakutkan.
Media China, Legal Daily, bahkan melaporkan bahwa tiga pelapor yang merupakan korban Sister Hong telah dinyatakan positif HIV.
Meskipun demikian, belum dapat dipastikan apakah penularan tersebut berasal dari Sister Hong.
Kasus ini menyoroti risiko besar dari aktivitas ilegal dan pelanggaran privasi, serta urgensi edukasi kesehatan yang lebih luas di tengah masyarakat.***
Editor : Fratama P.