Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Iran Ancam Balas Australia usai Duta Besarnya Diusir, Tolak Tuduhan Anti-Semitisme

Redaksi Lombok Post • Rabu, 27 Agustus 2025 | 00:45 WIB

Esmaeil Baghaei
Esmaeil Baghaei
LombokPost-- Iran berjanji akan mengambil tindakan balasan setelah Australia mengusir duta besar Republik Islam Iran.

Pengusiran ini dilakukan atas tuduhan “anti-Semitisme”, yang dengan tegas ditolak oleh Iran.

Menurut Iran, tuduhan diskriminasi agama tidak memiliki tempat dalam budaya, sejarah, atau keyakinan mereka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan pernyataan ini dalam konferensi pers pada Selasa (26/8), tak lama setelah Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengumumkan keputusan tersebut.

Baghaei menyatakan penolakan mutlak Iran terhadap tuduhan tersebut dan berjanji akan membalas tindakan diplomatik yang dianggap “tidak pantas dan tidak beralasan”.


Iran Menolak adanya kecenderungan anti-Semitisme dalam latar belakang budaya, sejarah, dan agama Iran, Baghaei menegaskan, “Fenomena ini [justru] adalah fenomena Barat dan Eropa.”

Ia menambahkan bahwa penganiayaan terhadap Yahudi adalah masalah yang berakar di Eropa, dan negara-negara di sana lah yang harus bertanggung jawab atas masa lalu historis mereka.

Baghaei mengaitkan keputusan Canberra dengan upaya untuk membenarkan kebijakan anti-Iran dan menebus kritik anti-Israel yang jarang diungkapkan oleh beberapa politisi Australia, termasuk Albanese sendiri.


Di bagian lain pernyataannya, Baghaei menegaskan kembali bahwa trio Eropa—Inggris, Prancis, dan Jerman—tidak memiliki wewenang hukum maupun moral untuk memaksa Dewan Keamanan PBB (DK PBB) memulihkan sanksi terhadap Iran. Trio tersebut telah berusaha mengaktifkan mekanisme ‘snapback’ dalam kesepakatan nuklir 2015.

Sebagai ‘posisi prinsipil’, Baghaei mengatakan, Iran meyakini bahwa negara-negara tersebut ‘tidak memiliki hak’ untuk mencoba memulihkan langkah-langkah paksa tersebut. Namun, Iran menyadari hasil yang “tidak menguntungkan” dari potensi kembalinya sanksi dan akan berupaya untuk mencegahnya.


Baghaei mencatat bahwa Iran memiliki “rencana yang jelas” untuk mencegah atau mengendalikan dampak jika sanksi kembali diberlakukan. Ia juga menekankan pentingnya waspada terhadap upaya yang bertujuan melancarkan “perang psikologis” terhadap rakyat Iran.

Baghaei menambahkan bahwa keterlibatan Iran dalam pembicaraan dengan pihak-pihak Eropa didasarkan pada kesiapan mereka untuk bernegosiasi, tidak seperti Amerika Serikat yang konsisten mengubah posisinya.

“Kami telah dengan jelas menunjukkan bahwa kami lebih memilih negosiasi,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa Washington tidak segan-segan mengganggu berbagai proses diplomatik, dan menegaskan, “Oleh karena itu, tidak ada yang dapat menyalahkan Republik Islam Iran karena menjauh dari negosiasi.”

Editor : Redaksi Lombok Post
#Anthony Albanese #australia #iran