Dilansir dari Al Jazeera, warga Palestina di Gaza mulai kehilangan harapan terhadap implementasi gencatan senjata, yang selalu dielu-elukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai kemenangannya. Bahkan Qatar, sebagai mediator perundingan, menyatakan frustrasi dengan tindakan Israel yang terus melanggar kesepakatan.
Pada Kamis (30/10), pasukan Israel dilaporkan menyerbu Qabatiya dan Turmus Aya. Di Qabatiya, tidak ada korban luka yang dilaporkan, namun di Turmus Aya, bentrokan terjadi dan diwarnai penggunaan granat dan gas air mata.
Aksi penyerangan tidak hanya dilakukan oleh militer. Pemukim Israel dilaporkan menebang ratusan pohon zaitun kuno di lahan milik tiga desa di selatan Nablus. Aksi kekerasan lain terjadi ketika pemukim menyerbu desa Badui di daerah al-Hathroura, timur Yerusalem, di mana mereka merusak properti dan memblokir jalan.
Melihat serangan yang terus berlanjut, semakin banyak warga Palestina di Gaza yang kehilangan harapan akan perdamaian. "Kini, setelah gencatan senjata dan gelombang baru pengeboman di Gaza. Orang-orang yang baru saja mulai merasakan rasa aman, damai, dan tenteram kembali hidup dalam ketakutan. Terutama anak-anak dan perempuan," ujar salah satu warga Gaza, Hassan Lubbad.
Netanyahu Ingin Lucuti Senjata Hamas
Sementara itu, di tengah eskalasi ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kembali rencananya untuk melucuti senjata Hamas dan mendemiliterisasi Gaza. Netanyahu menyebut bahwa tindakan tersebut merupakan bagian integral dari kesepakatan gencatan senjata.
"Kami sedang mengerjakan ini secara bertahap, bersama dengan komponen-komponen lain dari rencana ini," tuturnya, seperti dilansir dari Anadolu Agency pada Rabu lalu.
Hamas Tuding Israel Sabotase Rencana Perdamaian Trump
Menanggapi serangan Israel, Hamas menuduh Israel melakukan sabotase terhadap rencana perdamaian yang digagas oleh mantan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri konflik di Jalur Gaza. Mereka mengeklaim bahwa Israel sengaja membuat narasi Hamas menyerang lebih dulu, padahal itu fitnah.
Dalam pernyataan resminya yang dirilis Kamis (30/10/2025), Hamas menyatakan bahwa Israel bertanggung jawab penuh atas eskalasi berbahaya di Gaza. Mereka mengatakan bahwa serangkaian pengeboman fatal oleh militer Israel menandakan upaya memaksakan dominasi dan menghalangi tercapainya perdamaian.
“Hamas menegaskan bahwa Israel bertanggung jawab penuh atas eskalasi berbahaya ini dan atas upaya menyabotase rencana Trump dan kesepakatan gencatan senjata,” demikian bunyi pernyataan Hamas.
Hamas menegaskan tidak memiliki hubungan dengan insiden penembakan di Rafah dan menyatakan masih berkomitmen terhadap perjanjian gencatan senjata.
Editor : Redaksi Lombok Post