LombokPost - Operasi militer Amerika Serikat bertajuk "Absolute Resolve" yang berlangsung pada Sabtu (3/1/2026) menyisakan pertanyaan besar: ke mana perginya Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB) yang selama ini dikenal loyal kepada Nicolas Maduro?
Hanya dalam waktu kurang dari 30 menit, pertahanan negara tersebut runtuh, dan sang presiden berhasil ditangkap.
Ketidakseimbangan kekuatan menjadi faktor utama. AS tidak hanya menyerang secara fisik, tetapi juga mematikan "mata dan telinga" militer Venezuela.
Serangan Udara Masif: AS mengerahkan jet siluman F-22 dan F-35 serta pembom B-1.
Lumpuhnya Radar: Penggunaan pesawat perang elektronik EA-18G Growler berhasil menonaktifkan sistem pertahanan udara (SAM) Venezuela, membuat mereka buta terhadap serangan yang datang.
Operasi Siber: Serangan presisi dilakukan bersamaan dengan peretasan sistem komando, memutus jalur komunikasi militer sesaat sebelum pasukan darat mendarat.
Data intelijen mengungkap bahwa loyalitas FANB sebenarnya sangat rapuh akibat krisis ekonomi kronis.
Gaji Rendah: Prajurit biasa hanya menerima sekitar 100 dolar AS per bulan, menyebabkan moral jatuh ke titik terendah.
Pembelotan: Banyak anggota militer memilih untuk membiarkan serangan terjadi daripada mengorbankan nyawa demi rezim yang tidak mampu menjamin kesejahteraan mereka.
Analis taktis mencurigai adanya "kerja sama dari dalam". Meskipun secara publik menunjukkan loyalitas, beberapa elemen di dalam FANB diduga telah menjalin komunikasi dengan pihak oposisi atau intelijen asing untuk membiarkan operasi berlangsung cepat tanpa pertumpahan darah besar bagi pihak militer.
Kesimpulan: Sebuah "Badai Sempurna"
Para analis menyimpulkan bahwa kekalahan instan Venezuela adalah hasil dari kombinasi superioritas teknologi AS dan keroposnya struktur internal Venezuela. Operasi yang terencana selama berbulan-bulan ini tidak memberikan ruang sedikit pun bagi FANB untuk menyusun strategi perlawanan yang efektif.
Editor : Redaksi Lombok Post