LombokPost - Ketegangan geopolitik eskalasi tinggi kembali mencuat di kawasan Arktik setelah sejumlah negara NATO mengerahkan personel militernya ke Greenland menyusul ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk merebut wilayah itu. Langkah militer sekutu Atlantik Utara itu memicu reaksi keras dari Rusia, yang menuduh aliansi meningkatkan ketegangan tanpa dasar yang sah.
Prancis, Swedia, Jerman, dan Norwegia telah memulai pengerahan pasukan kecil ke ibu kota Nuuk untuk misi pengintaian, sementara negara-negara seperti Kanada dan Prancis juga merencanakan pembukaan konsulat di sana dalam beberapa minggu mendatang sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama keamanan.
Pengerahan pasukan ini menyusul pertemuan tingkat tinggi antara pejabat AS, Denmark, dan Greenland di Washington pada Rabu (14 Januari), yang gagal meredam ambisi Trump untuk mengambil alih wilayah otonom Denmark tersebut. Trump berulang kali menegaskan bahwa Greenland sangat penting bagi keamanan nasional AS. Ia menyatakan wilayah itu rawan “jatuh ke tangan Rusia atau China” jika tidak direbut oleh Amerika.
Rusia: Klaim Ancaman Moskow dan Beijing “Hanya Mitos”
Menanggapi pengerahan pasukan NATO, Kedutaan Besar Rusia di Belgia menyatakan keprihatinan serius atas apa yang disebutnya sebagai peningkatan militerisasi tanpa alasan yang sah di kawasan Arktik. Dalam pernyataan resmi, Rusia menuduh NATO menggunakan ancaman dari Moskow dan Beijing sebagai “dalih palsu” untuk memperluas kehadiran militernya dan menciptakan histeria geopolitik yang tidak perlu.
“Situasi yang terjadi di lintang tinggi ini menjadi keprihatinan serius bagi kami,” tulis kedutaan tersebut, menilai bahwa langkah NATO justru memperburuk ketegangan di kawasan yang sudah rawan konflik.
Sampai saat ini, Kementerian Luar Negeri Rusia maupun Kremlin belum mengeluarkan pernyataan resmi lanjutan mengenai pengerahan pasukan NATO tersebut, meskipun kritik awal dari Kedutaan Rusia menunjukkan ketidakpuasan Moskow terhadap manuver militer sekutu Atlantik Utara.
Baca Juga: Prestasi Gemilang: Pagesangan Barat Juara Nasional Lomba Kelurahan 2025
Greenland di Tengah Persaingan Global
Isu ini tidak terlepas dari dinamika perubahan iklim yang mencairkan es laut Arktik — membuka jalur pelayaran baru sekaligus potensi eksploitasi sumber daya mineral yang melimpah di bawah tanah Greenland. Posisi strategis pulau ini menjadikannya simbol baru persaingan global antara kekuatan besar, termasuk AS, Rusia, China, dan blok Barat melalui NATO.
Greenland adalah wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark yang menolak keras ambisi Trump untuk mengambil alih kendali. Pemerintah Denmark serta Greenland menegaskan bahwa pulau itu bukan untuk dijual dan bahwa kedaulatannya akan dipertahankan.
Dalam konteks ini, pengerahan pasukan NATO dilihat sebagai bentuk dukungan sekutu terhadap kedaulatan Denmark dan penegasan kembali prinsip pertahanan bersama, meskipun juga mencerminkan kekhawatiran tentang pertarungan pengaruh global di Arktik yang makin intens.
Situasi Greenland kini merupakan titik tekan baru dalam permainan geopolitik internasional — berakar dari ambisi strategis, kekhawatiran keamanan, dan pergeseran kekuatan besar di ujung utara dunia.