LombokPost - Singapura akan membentuk badan antariksa nasional yang mulai operasional pada 1 April mendatang.
Pembentukan ini bertujuan untuk memanfaatkan peluang ekonomi antariksa global yang terus berkembang serta memperkuat kapabilitas antariksa nasional.
Menteri Penanggung Jawab Energi dan Sains & Teknologi Tan See Leng mengatakan badan yang diberi nama National Space Agency of Singapore (NSAS) tersebut akan memiliki pusat operasi multi-lembaga.
Tujuannya untuk mendukung instansi pemerintah dalam penugasan satelit dan analitik data geospasial.
Pernyataan itu disampaikan Tan saat membuka Space Summit perdana pada Senin (2/2) di Sands Expo and Convention Centre.
Menurut Tan, pemanfaatan citra satelit dan data geospasial dapat diterapkan pada berbagai bidang, antara lain operasional pelabuhan, perencanaan kota, pemantauan lingkungan, dan ketahanan pangan.
Singapura juga berencana mengembangkan konstelasi satelitnya untuk memenuhi kebutuhan nasional dan penggunaan di kawasan khatulistiwa.
“Saat ini pemerintah memiliki tiga satelit observasi bumi yang dikembangkan bersama ST Engineering,” ujarnya.
Pemerintah Singapura juga akan membangun kapabilitas space situational awareness untuk menjamin keselamatan aset antariksa di tengah meningkatnya kepadatan orbit.
NSAS akan berada di bawah Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) dan bertugas mengembangkan regulasi serta legislasi sektor antariksa yang bersifat pro-inovasi dan pro-bisnis.
Badan baru ini akan memperluas fungsi Office for Space Technology & Industry (OSTIn) di bawah Economic Development Board. OSTIn akan dilebur ke dalam NSAS bersama lebih dari 30 staf.
Baca Juga: Produk Abon Cabai KWT Tetu-Tetu Sukses Tembus Pasar Singapura
Pemerintah menunjuk Ngiam Le Na sebagai kepala eksekutif NSAS. Dia sebelumnya adalah Wakil Kepala Eksekutif DSO National Laboratories.
Ngiam memiliki pengalaman 25 tahun di sektor publik dan sebelumnya menjabat Wakil Kepala Eksekutif Defence Science and Technology Agency.
Dia berpengalaman dalam pengadaan dan pengembangan satelit observasi bumi untuk kebutuhan nasional, termasuk pemantauan lingkungan, keamanan maritim, dan bantuan bencana.
Sejak 2022, pemerintah Singapura telah mengalokasikan lebih dari SGD 200 juta atau setara Rp 2,6 triliun untuk riset dan pengembangan antariksa.
Di bawah NSAS, investasi ini akan difokuskan pada bidang seperti kecerdasan buatan, robotika, teknologi iklim dan keberlanjutan, kesadaran situasi antariksa, serta penelitian mikrogravitasi dalam ilmu kesehatan manusia. (lyn/gas/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida