LombokPost - Kalau tiap drone “rumahan” Iran seharga USD 20 ribu harus diintersep dengan empat-lima rudal yang biaya pembuatannya USD 4 juta per unit, bisa dibayangkan betapa besar beban Amerika Serikat jika harus berperang selama enam bulan.
Perang yang tak pernah jelas tujuan awalnya dan hanya didukung satu dari empat warga Negeri Paman Sam.
DALIH awalnya ingin menghentikan program nuklir Iran. Lalu berubah ke pergantian rezim. Kemudian berganti menjadi menghancurkan semua misil balistik. Terbaru malah bilang ingin melindungi warga Amerika Serikat (AS) dari ancaman Teheran tanpa pernah jelas benar bahaya macam apa yang dimaksud.
Tapi tak hanya narasi penyerangan AS bersama Israel ke Iran yang mencla-mencle. Perkiraan durasi juga demikian. Presiden Donald Trump pernah berkoar perang paling lama bakal berlangsung empat pekan.
Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Perang Pete Hegseth juga menyebut, ini bukan “forever war” seperti yang pernah dialami AS di Irak dan Afghanistan.
Tapi, United States Central Command (CENTCOM) di Tampa, Florida, sudah mengajukan permintaan ke Pentagon agar menambah tenaga intelijen.
Sebab CENTCOM meyakini, dukungan untuk Perang Iran bakal dibutuhkan “setidaknya” selama 100 hari.
“Dan, kemungkinan bisa berlangsung sampai September,” kata sejumlah pejabat CENTCOM, seperti ditulis Politico.
Untuk sebuah perang yang sangat besar biayanya, telah melonjakkan harga minyak dan gas dunia, memicu kemarahan para sekutu di kawasan Teluk Persia, dan tak didukung publik sendiri, apa benar AS bakal bisa bertahan selama itu?
Asimetri Biaya
Untuk setiap drone Shahed yang ditembakkan Iran yang biaya pembuatannya hanya USD 20 ribu, AS harus menangkalnya dengan rudal Patriot PAC-3 yang dibuat dengan dana sekitar USD 4 juta.
Dan satu pesawat nirawak harus diintersep dengan empat-lima misil.
Itu artinya, AS harus mengeluarkan biaya USD 16–20 juta untuk menghentikan satu drone berharga USD 20 ribu.
AS harus merogoh kocek sekitar 200 kali ketimbang Iran. Jelas itu asimetri atau ketimpangan yang tidak main-main.
Pentagon mengestimasi, AS harus mengeluarkan biaya USD 1 juta per hari. Sampai dengan kemarin siang pukul 14.00 WIB, Negeri Paman Sam itu telah menguras kantong lebih dari USD 6,1 miliar.
Semuanya dari uang pajak rakyat. Wajar kalau kemudian berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos yang hasilnya dirilis pekan lalu, hanya satu dari empat warga AS yang mendukung penyerangan ke Iran.
Bahkan pendukung berat Trump di kalangan gerakan Make America Great Again juga meminta sang presiden lebih fokus ke persoalan dalam negeri.
Komentator politik Tucker Carlson, misalnya, yang bahkan menyebut kebijakan perang tersebut menjijikkan.
Belum lagi problem lainnya. Iran dikabarkan mampu memproduksi ribuan drone “rumahan” ala Shahed per hari. Sedangkan AS hanya mampu menghasilkan 650 rudal Patriot per tahun.
“Kami siap menghadapi perang panjang sampai semua agresor takluk. Semua musuh harus bersiap menghadapi kekalahan dalam setiap pertempuran. Inisiatif dan senjata baru Iran sudah siap dan belum digunakan dalam skala besar,” kata Juru Bicara Iran Brigjen Al Mohammad Naini, seperti dikutip dari China Global Television Network.
Sudah ribuan drone Shehad ditembakkan Iran ke berbagai aset dan kepentingan AS serta Israel di sekitar Teluk Persia, yang memicu kemarahan para sekutu Negeri Paman Sam di kawasan tersebut karena merasa tak dilindungi.
Perjudian Besar
Jangan lupa, Iran punya pengalaman delapan tahun bertarung melawan Iraq dalam perang yang juga bukan mereka yang memulai.
Jika AS dan Israel mengharapkan perubahan rezim dan pelucutan senjata hanya lewat serangan udara, itu juga tak realistis.
Di sisi lain, jika nekat melakukan penyerbuan lewat darat, sangatlah berisiko. Itu mengingat luasnya wilayah Iran, besarnya populasi mereka, dan banyaknya jumlah aparat keamanan.
“Tidak mungkin pasukan Amerika akan diterjunkan untuk menginvasi negara seukuran Iran. Ini bukan negara kecil, sangat besar,” kata Malcolm Rifkind, mantan menteri luar negeri dan pertahanan Inggris, kepada CNBC.
Menurut William Roebuck, mantan duta besar Inggris untuk Bahrain yang sekarang menjadi wakil presiden eksekutif Institut Negara-Negara Teluk, Trump sedang melakukan perjudian besar.
Terjun dalam perang yang dari awal tak jelas tujuannya.
“Sangat terbuka kemungkinan disrupsi ekonomi, yang selama ini menjadi fokus perhatiannya. Ini bisa memicu gejolak di pasar energi, juga memicu gejolak di pasar bursa yang juga menjadi fokus perhatiannya,” kata Roebuck, juga kepada CNBC.
AS jadi faktor utama penentu berapa lama perang ini akan berlangsung. Dengan berbagai faktor memberatkan tadi, skenario paling realistis bagi AS adalah mencari exit strategy tanpa kehilangan muka.
Mungkin di balik layar bisa meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa atau negara lain memediatori. Atau menelan ludah sendiri, kembali ke settingan awal, dengan mempropagandakan ulang kalau tujuan utama mereka hanya melenyapkan Ayatollah Ali Khamenei. (lyn/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida