LombokPost - Rencana Amerika Serikat untuk membuka kembali Selat Hormuz menghadapi hambatan serius di lapangan, meski Washington telah mengerahkan ribuan pasukan dan armada militer besar ke kawasan Timur Tengah.
Sejak pertengahan Maret, AS mengirim kapal perang amfibi, termasuk USS Tripoli bersama ribuan Marinir dari Jepang, sebagai bagian dari operasi untuk menekan Iran dan membuka jalur energi strategis tersebut.
Serangan udara dan operasi militer juga telah dilakukan untuk menghancurkan fasilitas Iran di sekitar selat, termasuk penggunaan bom bunker-buster dan serangan terhadap aset laut Iran.
Namun hingga kini, Selat Hormuz masih belum sepenuhnya terbuka. Jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan energi dunia itu tetap berada di bawah tekanan Iran, yang menggunakan kombinasi ranjau laut, drone, dan kapal cepat untuk mengganggu lalu lintas kapal tanker.
Dalam perkembangan terbaru, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mulai memberi sinyal perubahan arah strategi.
“Kami sedang mempertimbangkan untuk mengurangi operasi,” ujarnya, di tengah meningkatnya tekanan konflik, seperti dikutip Minggu (22/3).
Trump juga meminta sekutu untuk mengambil alih pengamanan Selat Hormuz, sebuah langkah yang dinilai sebagai indikasi bahwa operasi tidak berjalan sesuai rencana awal.
Namun respons sekutu justru minim. Sejumlah negara, termasuk Jepang dan Australia, menolak mengirim kapal perang untuk terlibat langsung dalam operasi tersebut.
Di sisi lain, Iran tetap mempertahankan tekanan militer di kawasan, bahkan setelah serangkaian serangan yang menargetkan fasilitas dan elite strategis mereka.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meski Amerika Serikat memiliki keunggulan teknologi dan kekuatan militer, operasi untuk menguasai Selat Hormuz bukanlah langkah cepat dan mudah.
Baca Juga: Rishon LeZion Dibombardir, Netanyahu Disorot Gagal Lindungi Ekonomi
Sebaliknya, konflik justru berkembang menjadi perang yang lebih kompleks, dengan faktor:
resistensi Iran yang tetap tinggi
minimnya dukungan sekutu
serta tekanan global akibat lonjakan harga energi
Situasi ini memperkuat kesan bahwa rencana awal Washington untuk membuka Selat Hormuz secara cepat belum tercapai, dan kini menghadapi realitas medan yang jauh lebih sulit dari perkiraan.