LombokPost - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan pemecatan Kepala Intelijen Nasional Tulsi Gabbard di tengah konflik dengan Iran.
Laporan ini pertama kali diungkap media The Guardian, yang menyebut Trump telah berdiskusi dengan para penasihatnya mengenai kemungkinan tersebut.
Trump disebut “mempertimbangkan untuk mengganti Gabbard” setelah muncul ketegangan terkait kebijakan perang Iran.
Salah satu pemicu utama adalah sikap Gabbard yang dinilai tidak sejalan dengan narasi Gedung Putih terkait alasan perang.
Ia disebut membela seorang pejabat intelijen yang justru mempertanyakan dasar kebijakan militer terhadap Iran.
Baca Juga: Dishub Rancang Bus Antar-Jemput ASN, BBM Jadi Target Penghematan
Pejabat tersebut mengundurkan diri setelah “secara terbuka meragukan alasan perang terhadap Iran,” yang kemudian memperkeruh hubungan internal.
Ketegangan ini memperlihatkan adanya perbedaan serius antara analisis intelijen dan keputusan politik di Washington.
Di sisi lain, Trump juga disebut telah menguji pandangan para penasihatnya, meski belum mengambil keputusan final.
Presiden disebut “masih menimbang opsi” karena belum ada kandidat pengganti yang jelas.
Situasi ini menambah daftar panjang friksi internal dalam pemerintahan, terutama terkait pendekatan terhadap Iran.
Baca Juga: Halal Bihalal GOW Jadi Momentum Konsolidasi Peran Perempuan
Sebelumnya, Trump sendiri mengakui adanya perbedaan pandangan dengan Gabbard, yang ia nilai “lebih lunak” dalam isu Iran.
Hingga saat ini, Gedung Putih belum mengumumkan keputusan resmi terkait posisi Gabbard.
Namun dinamika ini menunjukkan bahwa di balik agresivitas kebijakan luar negeri, terdapat ketidakselarasan di dalam tubuh pemerintahan sendiri.
Langkah mempertimbangkan pemecatan ini memperlihatkan bahwa perbedaan internal kini tidak lagi tertutup, melainkan mulai terbuka ke publik.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin