LombokPost - Pengacara HAM terkemuka Iran Nasrin Sotoudeh kembali ditangkap di Teheran, di tengah kekhawatiran meningkatnya pengetatan terhadap masyarakat sipil selama konflik berlangsung.
Kabar penangkapan ini disampaikan oleh putrinya, Mehraveh Khandan, yang menyebut ibunya dibawa dari rumah pada Rabu malam tanpa kejelasan pihak yang bertanggung jawab.
“Kami tidak tahu lembaga mana yang melakukan penangkapan ini,” ujarnya.
“Ia sendirian di rumah saat itu, dan kami baru mengetahui kejadian ini keesokan harinya.”
Menurut keluarga, seluruh perangkat elektronik milik Sotoudeh—termasuk ponsel dan laptop—disita, sementara barang lain di rumah tidak disentuh.
Baca Juga: TikTok Hapus Influencer Israel, Konten Kekerasan Jadi Pemicu
Penangkapan ini terjadi di tengah situasi Iran yang mengalami pembatasan komunikasi, termasuk pemutusan internet dan pembatasan akses telepon internasional.
Aktivis HAM menduga langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memperketat kontrol terhadap kritik domestik, terutama di tengah sorotan internasional akibat perang.
Sotoudeh dikenal luas sebagai pembela tahanan politik, termasuk aktivis perempuan yang menentang kewajiban hijab. Ia juga pernah menerima penghargaan internasional, termasuk Sakharov Prize dari Parlemen Eropa dan Right Livelihood Award.
Namun, ini bukan pertama kalinya ia ditahan. Selama dua dekade terakhir, Sotoudeh berulang kali dipenjara karena aktivitasnya, sebelum dibebaskan pada 2021 dengan alasan kesehatan.
Kondisi kesehatannya kini menjadi perhatian serius.
“Ibu saya memiliki penyakit jantung yang memburuk saat mengalami tekanan,” kata Khandan.
Baca Juga: Dari Nuklir ke Kehancuran, Strategi Trump Dinilai Ngawur!
“Dokter sebelumnya menyarankan ia tidak mengalami tekanan psikologis berat.”
Kekhawatiran semakin besar karena keberadaan Sotoudeh hingga kini belum diketahui.
Di sisi lain, kelompok HAM melaporkan peningkatan eksekusi di Iran sepanjang 2026. Sedikitnya 145 kasus telah terkonfirmasi, dengan ratusan lainnya dilaporkan namun belum diverifikasi.
Suami Sotoudeh, Reza Khandan, juga saat ini masih berada dalam tahanan sejak 2024, terkait aktivitas kampanye menentang kewajiban hijab.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin