LombokPost - Di perbatasan Iran–Turki, perang tidak hanya terlihat dari dentuman bom, tetapi juga dari arah langkah manusia. Ada yang pergi menjauh, ada pula yang justru kembali mendekat.
Di Kapıköy—gerbang pegunungan yang menghubungkan Iran dengan Turki—arus manusia berubah arah sejak konflik pecah. Dulu, jalur ini ramai oleh wisata belanja warga Iran. Kini, alasan orang melintas jauh lebih sederhana: bertahan hidup.
“Boom,” kata Amir, seorang warga Teheran, saat ditanya mengapa ia pergi, seperti dikutip Jumat (3/4).
“Setiap malam mereka membombardir.”
Amir, 33 tahun, kehilangan pekerjaannya sebagai trader akibat pemadaman internet.
“Tidak ada internet, tidak ada pekerjaan,” ujarnya.
Baca Juga: Dua Menit Terkini, Konflik Iran-AS-Israel: Rudal Dicegat di Kuwait hingga Gejolak Internal AS
Ia menggambarkan malam-malam di Teheran sebagai rutinitas ketakutan.
“Setiap malam bom. Kota-kota sekitar, kawasan industri, hancur,” katanya.
Namun tidak semua yang pergi membawa kemarahan.
“Kami ingin perubahan,” ujarnya singkat.
“Terima kasih kepada Trump.”
Di sisi lain, seorang ahli farmasi dari Teheran yang hendak menemui anak-anaknya di Eropa menggambarkan suasana yang berbeda.
“Semua orang hidup dalam kecemasan,” katanya.
“Saya tidak suka Trump, tapi mungkin ini benar untuk rakyat Iran.”
Data UNHCR menunjukkan lebih dari 64 ribu warga Iran memasuki Turki sepanjang Maret. Namun menariknya, sekitar 48 ribu orang justru kembali ke Iran.
Artinya, ini bukan gelombang eksodus besar. Ini adalah pergerakan yang lebih kompleks—antara takut dan tanggung jawab.
Organisasi International Organization for Migration mencatat banyak warga Iran justru berpindah secara internal, terutama ke wilayah utara dekat Laut Kaspia.
“Orang-orang masih menunggu melihat bagaimana situasi berkembang,” kata Kepala Misi IOM di Iran, Salvador Gutiérrez.
Sementara itu, dampak perang mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari: listrik terganggu, air terbatas, bahan bakar sulit.
Baca Juga: Jembatan Raksasa Iran Runtuh, Trump: Ini Baru Awal
Lebih dari 82 ribu unit rumah dilaporkan terdampak serangan, memengaruhi sekitar 180 ribu orang.
Namun bagi banyak warga, tekanan ekonomi justru terasa lebih berat daripada bom itu sendiri.
Muhammed, seorang pengusaha travel, menutup seluruh operasionalnya.
“Saya minta staf saya istirahat dua bulan. Setelah itu, saya tidak tahu,” katanya.
“Saya yakin setahun ke depan saya tidak bisa bekerja.”
Ia tinggal dekat bandara.
“Setiap malam, lebih dari seratus ledakan. Awalnya sangat sulit, tapi lama-lama jadi biasa,” ujarnya.
Baca Juga: Trump Klaim AS Segera Tinggalkan Iran, Tak Perlu Deal dengan Teheran
Di sisi lain, ada juga yang tetap bertahan—bahkan kembali.
Selma, 24 tahun, dari Maragheh, memilih tetap pulang.
“Tidak aman, tapi Iran adalah negara saya,” katanya.
Seorang perempuan yang kembali dari Kanada bahkan kehilangan ibunya akibat stres perang.
“Ibu saya meninggal karena serangan jantung. Tidak ada penyakit sebelumnya,” ujarnya.
“Perang ini memengaruhi semua orang.”
Di tengah semua itu, ada satu benang merah: ketidakpastian.
Baca Juga: Jaga Kondusivitas, Satpol PP NTB Kawal Aksi Massa AKSARA di Kejati
Sebagian berharap perubahan. Sebagian hanya ingin selamat.
Sebagian pergi. Sebagian pulang.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin