Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

340 Anak Tewas, Perang Ini Jadi Neraka Bagi Generasi Kecil

Lalu Mohammad Zaenudin • Sabtu, 4 April 2026 | 22:17 WIB
Seorang anak di Iran mengenakan atribut militer.
Seorang anak di Iran mengenakan atribut militer.

 

LombokPost - Perang di Timur Tengah tidak hanya menghancurkan kota dan infrastruktur, tetapi juga menyeret jutaan anak ke dalam krisis kemanusiaan yang akan membekas seumur hidup.

 

Lebih dari 340 anak dilaporkan tewas dan ribuan lainnya terluka sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran dimulai. Data itu disampaikan oleh UNICEF, yang juga mencatat lebih dari 1,2 juta anak kini terpaksa mengungsi di berbagai wilayah konflik.

 

“Anak-anak di kawasan ini terpapar kekerasan yang mengerikan,” kata Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell, seperti dikutip Sabtu (4/4).

“Sistem yang seharusnya melindungi mereka justru ikut diserang.”

 

Puncak tragedi terjadi di hari pertama perang. Sebuah serangan rudal menghantam sekolah di Iran dan menewaskan sedikitnya 160 anak dan guru—menjadi insiden paling mematikan bagi anak-anak dalam konflik ini.

 

Baca Juga: BBM Naik 42 Persen, Pakistan Gratisin Transportasi Demi Redam Amarah

Di Lebanon, situasinya tidak kalah memilukan.

 

Lebih dari 1,1 juta orang—termasuk sekitar 400 ribu anak—terpaksa meninggalkan rumah akibat serangan dan perintah evakuasi. Sebagian besar kini hidup tanpa tempat tinggal layak.

 

“Sudah jam lima sore, dan kami belum makan apa pun hari ini,” kata Nidal Ahmed, seorang pengungsi yang tinggal di tenda darurat di Beirut.

“Kami hanya memberi anak-anak teh dan roti.”

 

Ia menunjuk bayi perempuannya yang berusia delapan bulan.

“Ini tidak pantas untuk anak sekecil ini, tapi kami tidak punya pilihan.”

 

Baca Juga: Trump Soal Awak Jet Tempur AS Masih Hilang: Ini Adalah Perang!


Kondisi pengungsian digambarkan “memalukan”. Tenda seadanya bocor saat hujan, toilet terbatas, dan air bersih nyaris tidak tersedia. Anak-anak bahkan harus antre lama hanya untuk menggunakan kamar mandi.

 

Trauma mulai terlihat.

 

Setiap kali jet Israel melintas atau bom jatuh, anak Ahmed yang berusia tiga tahun langsung berlari mencari tempat bersembunyi.

 

Sementara itu di Palestina, luka lama belum sempat sembuh.

 

Di Gaza, yang telah luluh lantak selama hampir dua tahun perang sebelumnya, sedikitnya 50 orang dilaporkan tewas sejak konflik Iran pecah kembali. Jumlah korban anak belum sepenuhnya terdata.

 

Baca Juga: ‘Dunia Semakin Tidak Percaya pada Trump’


Di Tepi Barat, kekerasan juga meningkat. Dua anak Palestina, Mohammed (5) dan Othman (7), tewas bersama orang tuanya setelah ditembak saat perjalanan pulang berbelanja Ramadan.

 

“Kami membunuh anjing,” kata seorang aparat, menurut kesaksian kakak korban yang selamat.

 

Di sisi lain, di Israel, setidaknya empat anak juga tewas akibat serangan balasan rudal Iran.

 

Konflik ini juga membuka bab baru yang lebih gelap: penggunaan anak dalam aktivitas militer.

 

Human Rights Watch melaporkan adanya perekrutan anak-anak di Iran, bahkan mulai usia 12 tahun, untuk menjaga pos keamanan.

 

Baca Juga: Irak di Ambang Kekacauan, Serangan Datang dari Segala Arah


“Tidak ada alasan untuk merekrut anak-anak,” kata Bill Van Esveld dari organisasi tersebut.

“Ini adalah pelanggaran serius dan bisa menjadi kejahatan perang.”

 

Satu anak berusia 11 tahun bahkan dilaporkan tewas saat bertugas di pos penjagaan.

 

Di sektor pendidikan, dampaknya sangat luas.

 

Sedikitnya 52 juta anak di kawasan kehilangan akses pendidikan—baik karena sekolah hancur, digunakan sebagai tempat pengungsian, atau ditutup akibat situasi keamanan.

 

Ratusan sekolah dan fasilitas kesehatan dilaporkan rusak. Di Lebanon saja, lebih dari setengah tempat pengungsian adalah sekolah yang kini tidak lagi berfungsi sebagai tempat belajar.

Baca Juga: Musrenbang RPJMD Harus Realistis dan Selaras Kemampuan Fiskal

“Setiap pelajaran yang hilang memperdalam luka perang,” kata Ahmad Alhendawi dari Save the Children.

“Banyak anak yang tidak akan pernah kembali ke sekolah.”

 

Di balik semua angka itu, ada dampak yang tak terlihat: luka psikologis.

Anak-anak hidup dalam ketakutan, menyaksikan kekerasan, kehilangan keluarga, dan kehilangan rasa aman. Dampak ini tidak berhenti ketika perang berakhir.

 

“Setiap perang adalah perang terhadap anak-anak,” kata Alhendawi.

“Dan anak-anak tidak boleh menjadi korban dalam konflik apa pun.”

 

 

Baca Juga: Silsilah Tembus Generasi Kedelapan, KB Zuriat Haji Ibrahim Hamzah Perkuat Database Keluarga

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Timur Tengah #korban #Anak #perang