LombokPost - Dalam lima pekan sejak perang Iran dimulai, arah dan tujuan kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru semakin kabur. Pernyataan yang berubah-ubah, bahkan saling bertentangan, memperlihatkan bagaimana strategi Washington tampak bergeser hampir setiap hari.
Awalnya, saat operasi militer diluncurkan pada 28 Februari, tujuan yang disampaikan cukup jelas: menghancurkan rudal Iran, melumpuhkan angkatan lautnya, dan mencegah pengembangan senjata nuklir.
Namun seiring waktu, narasi itu berubah.
Dalam satu minggu terakhir saja, Trump menyatakan perang “tidak ada hubungannya dengan minyak”, tetapi kemudian justru menyebut Amerika bisa “mengambil minyak Iran dan menghasilkan keuntungan besar”.
“Kita tidak butuh minyak mereka,” ujarnya dalam pidato nasional.
Baca Juga: 340 Anak Tewas, Perang Ini Jadi Neraka Bagi Generasi Kecil
Namun hanya beberapa hari kemudian ia menulis: “Ambil minyaknya, dan kita bisa mendapat keuntungan besar.”
Kontradiksi ini menjadi benang merah dalam setiap pernyataannya.
Pada 29 Maret, Trump mengklaim negosiasi dengan Iran berjalan baik. Ia menyebut Teheran telah menyetujui sebagian besar tuntutan Amerika yang disampaikan melalui Pakistan.
“Mereka memberi kami sebagian besar poin,” katanya.
“Tentu saja mereka setuju.”
Di hari yang sama, ia juga membuka kemungkinan menyita Pulau Kharg—terminal utama ekspor minyak Iran.
Baca Juga: BBM Naik 42 Persen, Pakistan Gratisin Transportasi Demi Redam Amarah
“Mungkin kita ambil Kharg Island, mungkin tidak,” ujarnya.
Namun sehari kemudian, nada berubah drastis.
Trump mengumumkan “kemajuan besar” sekaligus mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik, ladang minyak, hingga fasilitas desalinasi Iran jika kesepakatan tidak tercapai.
Kontradiksi makin terlihat pada 31 Maret.
Ia menyebut Amerika akan segera keluar dari konflik.
“Dalam dua atau tiga minggu, mungkin kita sudah selesai,” katanya.
Baca Juga: Trump Soal Awak Jet Tempur AS Masih Hilang: Ini Adalah Perang!
Tetapi pada saat yang sama, ia justru mendorong negara lain—terutama Eropa—untuk mengambil alih pembukaan Selat Hormuz.
“Biarkan mereka yang membuka,” ujarnya, sembari menyindir sekutu seperti Inggris agar “belajar bertarung sendiri”.
Dua hari kemudian, posisi itu kembali berubah.
Trump menyatakan Amerika bisa dengan mudah membuka Selat Hormuz sendiri.
“Dengan sedikit waktu, kita bisa dengan mudah membuka selat itu,” tulisnya.
Pernyataan paling kontroversial muncul pada 1 April.
Baca Juga: ‘Dunia Semakin Tidak Percaya pada Trump’
Trump mengklaim Iran telah meminta gencatan senjata—klaim yang langsung dibantah Teheran sebagai “tidak berdasar”.
Di malam harinya, dalam pidato nasional, ia kembali mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran.
“Kami akan menghantam mereka sangat keras,” katanya.
“Kami akan membawa mereka kembali ke zaman batu.”
Ancaman itu bukan sekadar retorika.
Sehari setelahnya, serangan terhadap jembatan strategis di Iran benar-benar terjadi. Trump bahkan memperingatkan target berikutnya.
Baca Juga: Irak di Ambang Kekacauan, Serangan Datang dari Segala Arah
“Jembatan berikutnya, lalu pembangkit listrik,” tulisnya.
Puncak inkonsistensi terlihat pada 3 April.
Trump kembali menyinggung minyak—hal yang sebelumnya ia bantah sebagai motif perang.
“Ambil minyaknya, dan kita akan mendapat keuntungan besar,” tulisnya di media sosial.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin