LombokPost - Gelombang kritik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus membesar di dalam negeri, menyusul pernyataan bernada kasar dan ancaman terhadap Iran yang ia unggah di media sosial.
Senator Bernie Sanders menyebut pernyataan Trump sebagai berbahaya dan tidak stabil secara mental.
“Satu bulan setelah memulai perang di Iran, inilah pernyataan Presiden Amerika Serikat di hari Minggu Paskah. Ini adalah ocehan seseorang yang berbahaya dan tidak stabil secara mental. Kongres harus bertindak SEKARANG. Hentikan perang ini,” tulis Sanders di akun media sosialnya, seperti dikutip Minggu (5/4).
Kritik lebih keras datang dari Senator Chris Murphy yang menilai situasi sudah melampaui batas.
“Jika saya berada di kabinet Trump, saya akan menghabiskan hari Paskah untuk menelepon ahli hukum konstitusi tentang Amandemen ke-25. Ini benar-benar, sepenuhnya tidak terkendali. Dia sudah membunuh ribuan orang. Dia akan membunuh ribuan lainnya,” ujarnya.
Baca Juga: Amerika Sibuk Perang, Presiden Ukraina Takut Tak Dibantu Trump Lagi
Amandemen ke-25 Konstitusi AS sendiri mengatur mekanisme untuk memberhentikan presiden jika dinilai tidak mampu menjalankan tugasnya.
Sementara itu, anggota DPR Becca Balint menyoroti standar ganda dalam respons politik terhadap pernyataan presiden.
“Jika Presiden Biden atau Presiden Obama mengatakan sesuatu yang bahkan mendekati ini, maka semua kanal akan memberitakannya tanpa henti dan semua pihak di seberang akan berteriak meminta mereka mundur,” kata Balint dalam wawancara televisi.
Rangkaian kritik ini memperlihatkan meningkatnya tekanan politik terhadap Trump di tengah eskalasi perang Iran, terutama terkait gaya komunikasi dan arah kebijakan militernya yang dinilai semakin agresif.
Di tengah konflik yang terus meluas, dinamika politik domestik Amerika kini menjadi salah satu faktor penentu arah perang dan kebijakan luar negeri Washington.
Baca Juga: Trump Klaim Kesepakatan Iran Bisa Tercapai Senin Depan, Akui Terlibat Dalam Demo Anarkis
“Ini benar-benar, sepenuhnya tidak terkendali,” tegas Murphy.