Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mau Curi Uranium, Berkedok Selamatkan Pilot

Redaksi • Rabu, 8 April 2026 | 10:54 WIB
KIAN PANAS: Tampak maket rudal buatan dalam negeri Iran dipajang di sebuah pameran di luar Museum Pertahanan di Teheran. Sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, belum ada tanda-tanda gencatan senjata. Justru kondisi di Timur Tengah kian memanas seiring kedua belah pihak masih terus melancarkan serangan. (AFP)
KIAN PANAS: Tampak maket rudal buatan dalam negeri Iran dipajang di sebuah pameran di luar Museum Pertahanan di Teheran. Sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, belum ada tanda-tanda gencatan senjata. Justru kondisi di Timur Tengah kian memanas seiring kedua belah pihak masih terus melancarkan serangan. (AFP)

LombokPost - Jet tempur F-15E Amerika Serikat (AS) tertembak jatuh di Iran barat daya, dekat Selat Hormuz, pada Jumat (3/4) pekan lalu. Sedangkan lokasi penyelamatan pilot pesawat yang diklaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump dua hari berselang (5/4), berada di Isfahan, Iran tengah.

Jarak kedua tempat itu, mengutip Al Mayadeen, media yang berbasis di Teheran, Iran, sekitar 200 kilometer. Dalam kondisi setelah terlempar dari kursi pelontar yang kemungkinan terluka, benarkah pilot tersebut mampu berjalan atau berlari sejauh itu, apalagi kawasan tersebut banyak perbukitan?

Kejanggalan itu yang meyakinkan Iran bahwa pilot tersebut belum diselamatkan. Dan, operasi penyelamatan itu hanyalah kedok. Tujuan AS sebenarnya, menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei, mencuri stok uranium Iran yang telah diperkaya.

Baca Juga: Inggris 'Khianati' Trump? Tolak Pangkalan Militernya Dipakai Bombardir Infrastruktur Sipil Iran!

“Ada banyak ambiguitas. Hal ini menimbulkan kemungkinan bahwa operasi tersebut mungkin merupakan rencana tipu daya untuk mencuri uranium yang diperkaya,” ujarnya dalam konferensi pers di Teheran, Senin (6/4), seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Pada Minggu (5/4) pagi, lewat akunnya di media sosial Truth Social, Trump menulis, “We got him.” Him merujuk kepada si pilot, kru kedua F-15E, yang disebut sebagai seorang kolonel.

Sedangkan kru F-15E satunya, kata Trump, telah diselamatkan sehari setelah kejadian. Penyelamatan kru pertama itu tak dipublikasikan dengan pertimbangan keselamatan operasi penyelamatan kru kedua.

Baca Juga: Ketika Perang Menjadi Konten: Sinyal Matinya Nurani di Era Donald Trump dan Gen Z

Namun, sejak pengumuman Trump itu, AS tak pernah mempublikasikan bagaimana kondisi atau identitas pilot tersebut. Di sisi lain, Iran juga tak pernah mengumumkan keberhasilan menemukan pilot yang sama.

Sumber Ketegangan Lama

Isu uranium memang menjadi sumber ketegangan lama antara Iran dan AS. Washington selama ini menuduh Teheran mengembangkan bahan nuklir untuk senjata, sementara Iran berulang kali membantah tuduhan tersebut.

Baca Juga: Tenggat Trump Selat Hormuz Hari Ini dan Ancaman Iran ke AS-Israel: Gejolak Baru di Pasar Minyak Dunia

Sebelum diserbu AS dan Israel pada 28 Februari, Iran dan AS sebenarnya sudah terlibat negosiasi terkait uranium. Dan, menurut Menlu Oman Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi yang menjadi negosiator, Iran sebenarnya sudah menyepakati untuk, di antaranya, meniadakan stok uranium mereka.

Isfahan, tempat yang diklaim AS sebagai lokasi evakuasi pilot, merupakan titik penting program nuklir Iran. Laporan berbagai media menyebut, AS kehilangan setidaknya 12 pesawat dan helikopter dalam operasi tersebut. Di antaranya pesawat pengangkut HC-130 dan helikopter Black Hawk.

Trump mengatakan, pesawat F-15E yang jatuh itu akibat serangan rudal bahu yang disebutnya sebagai serangan beruntung. “Sekitar 200 personel pasukan khusus dikerahkan dalam operasi penyelamatan,” tuturnya.

Skala Besar

Pada 1 April, harian terkemuka AS, Washington Post, melansir laporan bahwa AS berniat mengambil alih uranium Iran. Trump bahkan meminta dibangunkan bandara di dalam wilayah negeri yang dulu bernama Persia itu untuk memudahkan pengangkutan uranium, permintaan yang menunjukkan betapa dia sangat meremehkan kekuatan Iran.

Skala operasi militer AS yang diklaim untuk penyelamatan itu tergolong besar. Sumber yang dikutip Washington Post mengungkapkan, sekitar 155 pesawat, termasuk pembom dan pesawat pengisian bahan bakar, turut dikerahkan dalam misi tersebut.

Direktur CIA John Ratcliffe menggambarkan operasi itu seperti mencari sebutir pasir di gurun. Namun, sebagian analis menilai pengerahan kekuatan sebesar itu tidak lazim untuk sekadar misi penyelamatan.

Biaya Melintasi Selat Hormuz

Di kesempatan lain, Trump membuka kemungkinan AS mengenakan biaya tol bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.

“Bagaimana jika kita yang memungut biaya? Saya lebih suka melakukan itu daripada membiarkan mereka memungutnya. Mengapa tidak? Kita adalah pemenangnya. Kita menang,” ujarnya saat menjawab pertanyaan wartawan di Washington DC, Senin (6/4).

Trump mengutarakan, seolah-olah pasukannya bakal mampu memaksa Iran membuka kembali selat yang menjadi jalur penting distribusi minyak dan gas tersebut. Pernyataan telah menang itu sudah berkali-kali dia ulang meskipun yang terjadi di lapangan menunjukkan kenyataan berbeda.

Tak heran kalau Teheran menganggapnya sebagai bualan. Sebab, mereka terus melancarkan serangan balasan yang diberi nama sandi Operasi Janji Sejati, tak hanya ke berbagai aset AS di kawasan Teluk Persia, tetapi juga ke wilayah Israel.

Pernyataan Trump muncul bersamaan dengan ultimatum yang ia sebut sebagai yang terakhir. Dia menuntut Teheran membuka kembali selat yang mereka blokade tersebut dan menerima syarat Washington atau menghadapi serangan total terhadap infrastruktur sipil begitu melewati tenggat 7 April waktu Washington DC. (lyn/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi
#selat hormus #Amerika Serikat #uranium #iran #trump