LombokPost - Pemerintah Jepang kembali mengambil langkah darurat dengan melepas cadangan minyak strategis guna menjaga stabilitas pasokan energi di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan pelepasan tambahan akan dimulai awal Mei sebagai respons atas meningkatnya kekhawatiran krisis energi.
“Untuk memastikan pasokan minyak mentah tetap stabil, kami akan mulai melepas cadangan nasional setara sekitar 20 hari kebutuhan mulai awal Mei,” ujar Takaichi dalam rapat kabinet Jumat (10/4).
Baca Juga: Rupiah Melemah, IHSG Anjlok: Harga Minyak Mentah Dunia Naik 20 Persen
Langkah ini menjadi yang kedua sejak pecahnya konflik Amerika Serikat–Iran pada Februari lalu.
Sebelumnya, Jepang telah melepas cadangan sebesar 50 hari kebutuhan. Ini adalah yang terbesar dalam sejarah.
Sekitar 95 persen kebutuhan minyak Jepang berasal dari Timur Tengah. Sebagian besar melalui Selat Hormuz yang kini diliputi ketidakpastian.
Cari Alternatif
Pemerintah Jepang juga mulai mengalihkan strategi dengan mencari jalur pasokan alternatif di luar kawasan tersebut.
Takaichi menyebut pada Mei mendatang lebih dari separo impor minyak diharapkan bisa diperoleh dari rute lain.
Baca Juga: Minyak Mentah Anjlok, MTI Desak Pemerintah Turunkan Harga BBM Transportasi
Di sisi lain, pemerintah meminta distributor dalam negeri memprioritaskan penyaluran bahan bakar untuk sektor penting seperti kesehatan, transportasi, dan pertanian. Kebijakan ini diambil di tengah tekanan politik yang meningkat. Ratusan aksi demonstrasi terjadi di berbagai kota, menolak kemungkinan keterlibatan militer Jepang dalam konflik.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump sempat mendesak Jepang untuk berperan dalam pengamanan Selat Hormuz. Namun, Tokyo menolak permintaan tersebut. Takaichi menegaskan sikap pemerintah tetap berpegang pada konstitusi damai Jepang. “Setiap keterlibatan militer harus dipertimbangkan secara sangat hati-hati karena berpotensi melanggar prinsip konstitusi kami,” tuturnya. (lyn/gas/jpg/r1)
Editor : Redaksi