LombokPost - Tiongkok memperkuat ekspansi di sektor ekonomi digital dengan menyiapkan fasilitas pembiayaan jumbo untuk mengembangkan pusat data berbasis orbit.
Langkah ini menegaskan strategi negara tersebut dalam menguasai infrastruktur komputasi generasi baru di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap kapasitas data.
Startup antariksa Orbital Chenguang (Beijing Orbital Twilight Technology Co., Ltd.) mengumumkan telah mengamankan fasilitas kredit senilai 57,7 miliar yuan atau sekitar Rp 145,6 triliun dari 12 lembaga keuangan besar, termasuk Bank of China dan Agricultural Bank of China.
Pembiayaan ini menjadi sinyal kuat dukungan sektor finansial terhadap pengembangan ekosistem komputasi berbasis antariksa.
Pendanaan tersebut melengkapi putaran awal (Pre-A1) yang melibatkan investor seperti Haisong Capital, CITIC Construction Investment Capital, dan Kunlun Capital.
Meski fasilitas kredit belum sepenuhnya dicairkan, skala komitmen ini mencerminkan besarnya taruhan ekonomi Tiongkok pada sektor komputasi orbit.
Baca Juga: Transaksi Harbolnas Ditargetkan Rp 35 Triliun, Genjot Ekonomi Digital dengan Momen Kampanye Belanja
Orbital Chenguang merupakan hasil inkubasi Beijing Astro-future Institute of Space Technology yang didukung pemerintah kota Beijing dan kawasan inovasi Zhongguancun.
Konsorsium ini melibatkan puluhan institusi lintas industri, memperlihatkan sinergi antara negara dan sektor swasta dalam membangun rantai nilai teknologi tinggi.
Direktur lembaga tersebut, Zhang Shancong, menyebut pusat data di Bumi menghadapi tekanan biaya lahan, energi, dan pendinginan yang semakin tinggi.
Baca Juga: Menteri Ekraf Riefky Soroti Peluang Ekonomi Digital Tak Terbatas Bagi Generasi Muda Indonesia
"Komputasi berbasis orbit menawarkan efisiensi baru melalui pemanfaatan energi surya berkelanjutan serta sistem pendinginan alami di ruang angkasa," ungkap Zhang dikutip dari The Guardian.
Sebagai tahap awal, perusahaan menargetkan pembangunan konstelasi satelit pada orbit senja-fajar di ketinggian 700–800 kilometer.
Orbit ini dinilai optimal untuk memastikan pasokan energi stabil sekaligus mengurangi beban termal sistem komputasi.
Secara roadmap, fase 2025–2027 akan difokuskan pada pengembangan teknologi inti dan peluncuran awal.
Periode 2028–2030 diarahkan pada integrasi komputasi orbit dengan sistem berbasis Bumi, sebelum akhirnya mencapai target kapasitas lebih dari 1 gigawatt pada 2035. (din/gas/JPG/r3)
Editor : Redaksi