LombokPost – Angka pengangguran lulusan perguruan tinggi baru-baru ini menyentuh level 5,7 persen, atau 1,5 poin lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.
Namun, masalah sebenarnya bukan sekadar sulit mencari kerja, melainkan besarnya jurang ketidakcocokan (mismatch) antara apa yang diinginkan perusahaan dan apa yang dibawa oleh talenta muda saat ini.
Profesor dari NYU Stern School of Business, Suzy Welch, dalam podcast The Excerpt, Rabu (6/5) mengungkapkan fakta yang cukup mencengangkan.
Baca Juga: Astra Motor NTB Ajak Gen Z Tetap Tenang di Jalan, Bagikan Tips Aman Berkendara di Lombok Utara
Berdasarkan riset menggunakan instrumen The Values Bridge terhadap 200.000 responden.
Ditemukan bahwa hanya 2 persen dari populasi Gen Z yang memiliki nilai-nilai yang dicari oleh manajer perekrutan.
"Ini bukan sekadar konflik antar-generasi biasa. Magnitudo perbedaannya sangat gila. Sebanyak 98 persen Gen Z tidak memiliki nilai yang dicari perusahaan," papar Welch.
Baca Juga: Ketika Perang Menjadi Konten: Sinyal Matinya Nurani di Era Donald Trump dan Gen Z
Benturan Nilai: Cuan vs Self-Care
Welch membedah bahwa akar masalahnya terletak pada prioritas.
Bagi para manajer (yang umumnya berusia di atas 40 tahun), tiga nilai utama yang mereka cari adalah Pencapaian (Achievement), Etos Kerja (Work Centrism), dan Cakupan Pengalaman (Scope).
Baca Juga: Efek Dahsyat BTS: 1 Juta Wisatawan Asing Serbu Korea Selatan, Didominasi Gen Z
Sebaliknya, Gen Z menempatkan Achievement di urutan ke-12 dan Work Centrism di urutan ke-13. Nilai teratas bagi mereka adalah Eudaimonia (Self-care/Flourishing), Suara (Voice/Autentisitas), dan Menolong Orang Lain.
"Para bos datang lebih awal, pulang larut, dan sangat peduli soal menang atau kalah dalam urusan klien. Sementara Gen Z berkata, 'Aku tidak suka aturan itu. Orang tuaku punya nilai seperti itu dan mereka tetap kena PHK di usia 54 tahun'," tambah Welch.
Ancaman AI dan Budaya Remote
Selain benturan nilai, kehadiran AI turut mempersempit ruang bagi lulusan baru.
Perusahaan kini cenderung bergerak lambat dalam merekrut posisi entry-level karena tugas-tugas dasar tersebut mulai bisa dikerjakan oleh asisten AI.
Masalah kian pelik dengan preferensi kerja jarak jauh (remote).
Welch menyebut 80 persen mahasiswanya memilih kerja remote, yang menurutnya justru menghambat perkembangan soft skills seperti kolaborasi dan empati yang hanya bisa didapat melalui interaksi tatap muka di kantor.
Hanya Perusahaan Elite yang Menang?
Lalu, bagaimana dengan perusahaan yang sukses mengelola Gen Z?
Menurut Welch, rahasianya bukan pada pelatihan, melainkan pada rekrutmen.
Perusahaan besar seperti JP Morgan, Goldman Sachs, hingga Bain disebut sangat selektif mencari "Kelompok 2 Persen" tersebut agar tidak terjadi diskoneksi nilai sejak hari pertama.
Bagi Gen Z, Welch berpesan agar mereka memahami adanya konsekuensi dari nilai-nilai yang mereka pegang.
"Sukses bagi Gen Z mungkin bukan tumpukan harta, tapi fleksibilitas. Mereka harus siap dengan trade-off atau pertukaran antara gaya hidup dan akumulasi kekayaan," pungkasnya.
Editor : Redaksi Lombok Post Online