Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kapal Perang AS Bersiap Kawal Tanker di Selat Hormuz, Setelah Proposal Damai Ditolak Iran

Redaksi • Rabu, 13 Mei 2026 | 12:54 WIB
TERTAHAN: Kapal-kapal berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran Selatan. (KHORGOOEI/ISNA/AFP)
TERTAHAN: Kapal-kapal berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Bandar Abbas, Iran Selatan. (KHORGOOEI/ISNA/AFP)

LombokPost - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut AS bersiap mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz setelah proposal perdamaian Washington ditolak mentah-mentah oleh Iran.

Langkah itu diambil di tengah memanasnya kembali ketegangan terkait blokade jalur pelayaran minyak paling vital di dunia tersebut.

Trump mengatakan gencatan senjata antara AS dan Iran kini berada dalam kondisi “kritis” setelah dirinya membaca dokumen proposal balasan dari Teheran.

Baca Juga: Ketegangan di Selat Hormuz: Militer Iran Balas Serangan Kapal Tanker oleh Pasukan AS

“Saya akan mengatakan bahwa gencatan senjata itu berada dalam kondisi kritis,” ujar Trump. 

Teheran Tolak Buka Blokade

Pernyataan keras itu muncul setelah Iran menolak melanjutkan pembicaraan penghentian blokade Selat Hormuz kecuali AS memenuhi sejumlah syarat yang diajukan Teheran.

Baca Juga: Kapal AS Dekati Selat Hormuz, Iran Lepas Tembakan Peringatan

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur utama distribusi minyak dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.

Sebelumnya, pemerintah AS telah mengirim proposal perdamaian kepada Iran pekan lalu.

Proposal tersebut berisi sejumlah syarat untuk membatasi pengembangan program nuklir Iran dan meredakan konflik di kawasan.

Baca Juga: AS Bersiap Bebaskan Kapal di Selat Hormuz, Rencana Trump Berpotensi Picu Eskalasi Baru

Namun pada akhir pekan lalu, Iran mengirimkan proposal balasan yang langsung ditolak Trump.

Ditentang Arab Saudi

Namun, rencana pengawalan militer kapal tanker minyak oleh Angkatan Laun AS di Selat Hormuz tersebut mendapat penolakan dari Arab Saudi. Riyadh dikabarkan tidak ingin wilayah udara maupun pangkalan militernya digunakan untuk operasi yang dianggap dapat memperbesar eskalasi konflik di Timur Tengah.

Ketegangan semakin meningkat setelah harga minyak dunia kembali melonjak hingga menembus 105 dolar AS per barel. Lonjakan terjadi setelah Iran menegaskan tidak akan membuka negosiasi baru terkait Selat Hormuz sebelum tuntutannya dipenuhi.

Syarat Masuk Akal

Mantan Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari, mengatakan tidak akan ada perundingan selama sanksi terhadap Iran belum dicabut dan kerugian perang belum diganti.

“Selama perang di semua lini belum berakhir, sanksi belum dicabut, dana yang diblokir belum dilepaskan, kerusakan perang belum diganti rugi, dan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz belum diakui, tidak akan ada negosiasi lain,” tegas Jafari.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, menyebut proposal yang diajukan negaranya sebagai langkah yang “masuk akal, bertanggung jawab, dan murah hati”. Ia menilai peluang tercapainya kesepakatan sebenarnya masih terbuka. (raf/gas/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#selat hormuz #Amerika Serikat #Arab Saudi #iran #perang