LombokPost — Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa perdamaian tidak akan terwujud di kawasan itu tanpa penarikan Israel dari wilayah pendudukan di Lebanon, dan mengutuk serangan Israel yang terus berlanjut terhadap warga sipil Lebanon.
Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan pada hari Kamis mengenai peristiwa terkini di Lebanon, IRGC menilai bahwa kecaman internasional serta ungkapan kekecewaan dari berbagai negara di dunia sama sekali tidak berpengaruh pada perilaku "penguasa haus darah" Tel Aviv.
IRGC juga menyoroti peran global dalam eskalasi konflik ini. "Rezim Amerika yang arogan, dengan dalih membangun perdamaian, hanya meningkatkan kejahatan dan genosida melalui intervensinya," bunyi pernyataan tersebut.
Baca Juga: IRGC Laporkan 26 Kapal Melintasi Selat Hormuz di Bawah Pengawasan Ketat
Seperti dilansir PressTV dalam rilis resminya, IRGC menggambarkan tentara Israel sebagai "pengecut dan tidak mampu," menyatakan bahwa mereka mencoba untuk mengimbangi kekalahan di medan perang dengan membunuh warga sipil dan menghancurkan rumah, rumah sakit, dan sekolah.
Pihak Teheran menilai dukungan logistik dari sekutu Barat tidak mampu mengubah posisi sosiopolitik Israel di wilayah konflik. "Rezim rasis ini, meskipun mendapat dukungan tak terbatas dari Amerika dan negara-negara Eropa, bahkan belum mampu memenangkan hati rakyat di satu pun desa yang diduduki selama keberadaannya yang memalukan," kata pernyataan itu.
"Keahliannya hanyalah menguasai tanah yang terbakar, dan setiap hari kita menyaksikan kehancuran rumah-rumah rakyat Palestina dan Lebanon yang tertindas di tangan rezim agresor ini," lanjut pernyataan tersebut.
Baca Juga: IRGC Peringatkan Agresi Baru terhadap Iran Bakal Memperluas Perang ke Luar Kawasan
Lebih lanjut, IRGC menegaskan bahwa bangsa Lebanon tidak akan membiarkan rezim pendudukan mencapai melalui kesepakatan paksa apa yang tidak dapat dicapai melalui perang, bahkan dengan dukungan dari "rezim Amerika yang membunuh anak-anak."
"Syarat utama kami untuk menerima gencatan senjata dalam perang regional adalah gencatan senjata di semua lini, termasuk Lebanon," kata pernyataan itu.
IRGC menyatakan bahwa musuh harus segera menghentikan serangannya terhadap rakyat Lebanon, segera mundur dari wilayah Lebanon yang diduduki kembali ke belakang perbatasan internasional, dan mengakui integritas teritorial Lebanon.
"Bangsa Lebanon adalah kebanggaan umat dan simbol kehormatan rakyat di kawasan ini. Kami akan mendukung mereka dengan segenap jiwa raga kami. Tidak akan ada perdamaian yang terwujud di kawasan ini tanpa penarikan diri dari wilayah Lebanon yang diduduki," katanya.
Baca Juga: IRGC Rilis Titik Target Serangan Baru di Kawasan Teluk, Berikut Bocoran Lokasinya
Ketegangan ini sempat memuncak pada hari Senin, ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa ia telah memerintahkan serangan di daerah Dahiyeh, distrik yang mayoritas penduduknya Syiah di pinggiran selatan Beirut, dan mengeluarkan perintah evakuasi yang mencakup seluruh wilayah tersebut.
Sebagai tanggapan, komando militer pusat Iran memperingatkan bahwa jika Israel melaksanakan ancamannya untuk mengebom Beirut selatan, pasukan Iran akan membalas terhadap wilayah pendudukan di utara.
Kementerian Luar Negeri Iran juga mengatakan Teheran siap membantu Lebanon melawan "agresi ilegal," menambahkan bahwa gencatan senjata Lebanon adalah "bagian integral dari setiap gencatan senjata dan setiap kesepakatan akhir" dengan Amerika Serikat.
Pasca-peringatan keras dari Teheran, dinamika diplomasi internasional mulai bergerak cepat. Tak lama setelah peringatan Iran, Presiden AS Donald Trump mengatakan di media sosial bahwa ia telah turun tangan, mengklaim bahwa ia telah mengadakan "percakapan yang sangat produktif" dengan Netanyahu yang mencegah eskalasi lebih lanjut.
Baca Juga: Teheran Pecah! Surat Mundur Presiden Iran Bocor ke Publik
Trump juga mengklaim telah mencapai kesepahaman dengan Hizbullah melalui perwakilan seniornya, menyatakan bahwa kelompok perlawanan tersebut telah setuju untuk menghentikan serangan sebagai imbalan atas penghentian serangan oleh Israel.
Sebagai catatan, sebuah mekanisme gencatan senjata yang dimediasi Pakistan antara Teheran dan Washington, yang juga mencakup Lebanon, telah berlaku sejak awal April, meskipun Israel terus melakukan serangan harian terhadap negara Arab tersebut yang melanggar gencatan senjata.
Pihak Iran secara konsisten menggarisbawahi bahwa setiap upaya diplomasi perdamaian harus bersifat menyeluruh. Iran telah berulang kali menyatakan bahwa gencatan senjata apa pun harus komprehensif, mencakup semua front, termasuk Lebanon, dan telah memperingatkan bahwa mereka tidak akan mentolerir serangan Israel yang berkelanjutan terhadap negara tersebut.
Editor : Redaksi Lombok Post