LombokPost-- Aktivitas pelayaran komersial di salah satu jalur maritim paling strategis di dunia kini mengalami kelumpuhan total akibat peningkatan eskalasi militer. Sebelum Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran, Selat Hormuz terbuka bagi kapal mana saja. Sekitar 20 persen distribusi minyak dunia pun aman melaluinya.
Namun, dinamika keamanan berubah drastis pasca-insiden serangan tersebut. Tapi, begitu diserang, Iran bereaksi dengan mewajibkan kapal yang melintas di selat yang memisahkan wilayah mereka dengan Oman untuk meminta izin. Bahkan, juga mengenakan tarif.
Ketegangan mencapai puncaknya pada Kamis (11/6/2026) waktu setempat. Mengutip laporan Al Jazeera, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memerintahkan seluruh tanker dan kapal komersial menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz. Setiap kapal yang mencoba melintas akan menjadi sasaran serangan.
“Akibat meningginya tensi yang disebabkan agresi pasukan AS dan pengumuman oleh Angkatan Bersenjata Iran tadi malam, Selat Hormuz akan ditutup sampai waktu yang belum ditentukan,” kata Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA) di akun X mereka.
Kebijakan penghentian total arus pelayaran ini otomatis bakal mengganggu pasokan energi global. Dampak ekonomi turunan dari blokade maritim ini diproyeksikan sangat signifikan, di mana harga minyak pun diperkirakan bakal kembali naik.
Langkah pemblokiran koridor laut ini diambil setelah adanya konfrontasi bersenjata secara langsung di wilayah perairan tersebut. Perintah penutupan itu dikeluarkan setelah militer AS dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terlibat bentrokan di perairan strategis tersebut. Sedikitnya tujuh titik pesisir Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan, termasuk Bandar Abbas, Sirik, Qeshm, dan Pulau Hengam.
Pihak Pentagon memberikan konfirmasi resmi mengenai operasi militer yang diluncurkan di wilayah pertahanan Iran. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut, serangan itu demi tercapainya gencatan senjata. “Presiden (Donald) Trump memerintahkan kami untuk menyerang dengan keras,” kata Hegseth di luar markas CENTCOM (Pusat Komando Militer AS), seperti dikutip dari CNN.
Respons cepat langsung diluncurkan oleh komando militer Iran terhadap aset-aset strategis sekutu di kawasan Asia Barat. Iran membalas dengan menyerang berbagai pangkalan militer AS di kawasan sekitar. Dampak eskalasi ini meluas ke beberapa negara tetangga, di mana Kuwait sampai harus menutup wilayah udaranya. Selain itu, AS juga memperingatkan warga Jordania agar mencari tempat perlindungan.
Baca Juga: Trump Ancam Bumihanguskan Oman, Iran Pukul Mundur Tanker AS di Selat Hormuz
Di tengah eskalasi konflik, Presiden Amerika Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Iran. Trump menuduh, Teheran sengaja mengulur-ulur negosiasi damai yang selama ini berlangsung.
“Kami menghantam mereka keras kemarin dan kami akan menghantam mereka lagi hari ini," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Rabu.
Sebelumnya, melalui kanal komunikasi digital pribadinya, Trump menegaskan konsekuensi yang harus dihadapi Teheran akibat keterlambatan proses diplomasi. Trump sebelumnya juga menulis di platform Truth Social bahwa Iran telah terlalu lama menunda perundingan dan kini harus membayar harganya.
Ia bahkan mengisyaratkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur strategis Iran, seperti jembatan dan pembangkit listrik. Meski demikian, dia masih berharap kesepakatan damai dapat tercapai untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tiga bulan.
Konflik terbaru ini langsung mengguncang pasar energi global. Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi internasional dan mendorong harga minyak kembali menguat.
Meta Deskripsi (140 Karakter): Selat Hormuz ditutup total pasca-bentrokan militer AS-Iran. Penutupan jalur logistik minyak mentah ini guncang pasar energi global.
Editor : Redaksi Lombok Post