LombokPost - Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) untuk mengakhiri konflik bersenjata Jumat (19/6) di Swiss.
Kesepakatan tersebut membuka peluang pencabutan sanksi ekonomi terhadap Teheran dan dimulainya negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran.
Dampak kesepakatan damai itu juga menjalar sampai ke Indonesia. Setelah berbulan-bulan tertekan akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan pemulihan signifikan pada pertengahan bulan ini.
Guru Besar Ekonomi Moneter Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong penguatan aset-aset keuangan domestik. Salah satu dampak paling cepat terlihat adalah penguatan rupiah.
Sempat mendekati level psikologis kritis, kini rupiah bergerak lebih stabil di kisaran Rp 17.672 hingga Rp 17.778 per dolar AS.
Kondisi tersebut didukung oleh turunnya harga minyak mentah dunia sekitar 4 hingga 5 persen sehingga kembali berada di bawah USD 80 per barel.
“Penurunan harga minyak sangat membantu Indonesia karena mengurangi tekanan biaya impor migas sekaligus menjaga ketahanan fiskal melalui beban subsidi energi yang lebih terkendali," kata Rahma kepada Jawa Pos, Rabu (17/6).
Mengutip Al Arabiya News, seremoni penandatanganan MoU akan berlangsung di Resor Burgenstock dekat Lucerne, Swiss.
Menurut pejabat AS, Presiden Donald Trump, Wakil Presiden J.D Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf telah menandatangani dokumen tersebut secara elektronik.
Baca Juga: Tegaskan Kedaulatan, Presiden Pezeshkian: Iran Tidak Akan Pernah Tunduk pada Ancaman dan Tekanan
Vance akan mewakili AS dalam penandatanganan fisik dokumen, sementara media Iran melaporkan, Ghalibaf akan menjadi representasi Iran.
Penghentian Perang
Meski isi lengkap dokumen belum dipublikasikan, sejumlah media Amerika dan Arab Saudi menyebut, kesepakatan tersebut berisi 14 poin, utamanya penghentian perang di seluruh lini konflik. Setelah penandatanganan, kedua negara dijadwalkan langsung memulai negosiasi lanjutan selama 60 hari.
AS akan mengizinkan Iran kembali menjual minyak dan bahan bakar segera setelah kesepakatan ditandatangani. Pelonggaran juga mencakup sektor perbankan, transportasi, dan asuransi.
Optimisme pasar juga diperkuat dengan mulai bergeraknya kembali ekspor minyak Iran. Situs pelacak TankerTrackers melaporkan, sedikitnya dua kapal tanker super milik National Iranian Tanker Company telah keluar dari area blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz dengan membawa sekitar 3,8 juta barel minyak mentah.
Namun, prospek perdamaian masih dibayangi ketegangan di Lebanon. Mengutip Al Jazeera, militer Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Lebanon Selatan, termasuk di sekitar Kfar Tebnit dan Nabatieh. Sebagai balasan, pejuang Hizbullah dilaporkan menembakkan sedikitnya 10 roket ke arah posisi pasukan Israel.
“Tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah (Lebanon) yang mereka duduki selama perang ini, perang belum sepenuhnya berakhir," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Sebelumnya, Trump secara terbuka mengkritik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam KTT G7 di Prancis. “Israel telah terlalu lama memerangi Hizbullah dan terlalu banyak orang yang terbunuh," ujar Trump. (lyn/mim/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online