Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dampak Serangan Iran, AS Jajaki Rencana Relokasi Aset Armada Kelima dari Bahrain ke Israel

Redaksi Lombok Post • Jumat, 26 Juni 2026 | 23:19 WIB
Kantong pembuat komponen vital untuk rudal Iran di Shiraz diserang Israel.
Kantong pembuat komponen vital untuk rudal Iran di Shiraz diserang Israel.

LombokPost— Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah mengkaji ulang penempatan taktis kekuatan militer mereka di kawasan Timur Tengah. Kerusakan besar yang ditimbulkan oleh rudal dan drone Iran terhadap markas besar Armada Kelima AS di Bahrain telah memaksa Washington untuk mempertimbangkan relokasi sebagian aset militernya dari negara kecil di Teluk Persia tersebut ke pangkalan-pangkalan di wilayah Palestina yang diduduki Israel.

Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas meningkatnya risiko keamanan terhadap instalasi vital luar negeri milik Pentagon. Menurut laporan yang diterbitkan oleh Wall Street Journal pada hari Kamis, para pejabat AS sedang mempertimbangkan pergeseran ke arah barat dari beberapa pasukan militer di Asia Barat, termasuk kemungkinan perluasan kehadiran di Israel.

Dinamika geopolitik ini eskalatif setelah terjadinya konfrontasi bersenjata terbuka di kawasan tersebut beberapa waktu lalu. Diskusi tersebut menyusul serangan balasan yang menghancurkan oleh angkatan bersenjata Iran selama perang AS-Israel terhadap Iran awal tahun ini.

Detail Kerusakan Infrastruktur dan Estimasi Kerugian Finansial

Dampak dari operasi serangan udara tersebut secara signifikan memengaruhi kesiapan operasional pangkalan utama laut AS. Serangan tersebut menyebabkan kerugian langsung sekitar $400 juta pada pangkalan utama Armada Kelima di Bahrain, yang menunjukkan kerentanan posisi AS di wilayah tersebut.

Sektor-sektor vital yang menopang aktivitas harian militer dilaporkan mengalami kelumpuhan fungsional akibat hantaman proyektil. Serangan Iran sangat menargetkan dan melumpuhkan infrastruktur utama, termasuk fasilitas komunikasi canggih, barak militer, gudang, sistem air, dan struktur penting lainnya.

Bukti-bukti visual dari pemantauan udara mengonfirmasi tingkat keparahan dari kerusakan fasilitas struktural tersebut. Citra satelit menunjukkan kerusakan yang meluas, dengan beberapa bangunan mengalami kerusakan parah sehingga tidak dapat digunakan lagi.

Berdasarkan kalkulasi awal, pemulihan fisik bangunan memerlukan pendanaan yang sangat besar, di luar dari total biaya operasional militer keseluruhan. Biaya perbaikan dan rekonstruksi untuk fasilitas yang rusak saja diperkirakan sekitar $400 juta. Namun, kerugian finansial keseluruhan bagi AS diperkirakan jauh lebih tinggi.

Pengajuan Anggaran Pertahanan dan Skenario Mitigasi Pentagon

Guna menutupi lonjakan biaya akibat eskalasi konflik, Departemen Pertahanan AS telah mengajukan draf permohonan dana darurat kepada pihak legislatif. Pentagon telah meminta sekitar $80 billiard dari Kongres untuk menutupi pengeluaran terkait perang agresi terhadap Iran.

Alokasi anggaran khusus tersebut berjalan linier dengan kebijakan peningkatan belanja pertahanan yang didorong oleh otoritas eksekutif tertinggi AS. Angka ini merupakan tambahan dari peningkatan pengeluaran militer besar-massal yang didorong oleh Presiden Donald Trump atas desakan Menteri Perang Pete Hegseth.

Dalam upayanya, Hegseth telah aktif melobi para anggota parlemen di Capitol Hill untuk menyetujui anggaran militer AS yang sangat besar, yaitu $1,5 triliun.

Di samping rencana pemindahan aset ke wilayah lain, pihak militer juga menyiapkan draf rancangan arsitektur pertahanan baru yang lebih aman di lokasi saat ini. Wall Street Journal lebih lanjut melaporkan bahwa Pentagon telah menugaskan para insinyur untuk merancang pusat komando bawah tanah yang diperkuat di Bahrain untuk lebih melindungi dari serangan rudal dan drone Iran di masa mendatang.

Pemetaan Ulang Geostrategis di Kawasan Teluk

Formasi penataan ulang ini diproyeksikan tidak hanya menyasar satu titik pangkalan, melainkan mencakup draf pengurangan personel di beberapa negara mitra Arab. Mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, laporan tersebut menambahkan bahwa Washington juga mempertimbangkan untuk mengurangi jejak militernya di negara-negara Arab Teluk Persia lainnya, termasuk Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Dalam peta opsi penempatan yang baru, wilayah sekutu utama AS di Mediterania Timur dinilai menjadi prioritas utama. Di antara lokasi relokasi potensial, tanah Palestina yang diduduki Israel berada di urutan teratas.

Indikasi penguatan logistik udara di wilayah tersebut sejatinya telah memperlihatkan pergerakan yang masif sejak awal konflik. Puluhan pesawat militer AS telah ditempatkan di Bandara Ben Gurion sebagai persiapan dan selama perang.

Kendati rencana pergeseran ini tengah bergulir, untuk saat ini kedudukan komando utama matra laut AS di kawasan Teluk secara administratif belum mengalami perubahan. Untuk saat ini, Armada Kelima AS di Bahrain tetap menjadi komando angkatan laut utama Washington untuk Teluk Persia dan Asia Barat yang lebih luas.

Peran strategis pangkalan ini mencakup wilayah yurisdiksi patroli maritim yang sangat luas dan krusial bagi kelancaran jalur perdagangan serta stabilitas energi global. Armada ini mengawasi serangan militer AS di wilayah yang luasnya sekitar 6,5 juta kilometer persegi, membentang dari Teluk Persia hingga Teluk Oman, Laut Arab, Laut Merah, dan sebagian Samudra Hindia.

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#Amerika Serikat #Israel #iran #bahrain #Armada Kelima AS