LombokPost - Upaya negara-negara BRICS mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru.
Kelompok ekonomi yang kini beranggotakan sejumlah negara berkembang itu terus menyiapkan sistem pembayaran dan mekanisme transaksi lintas negara yang berpotensi menjadi alternatif dominasi dolar dalam perdagangan internasional.
Ekonom Inggris Jim O'Neill menilai gagasan BRICS membangun alternatif terhadap sistem keuangan berbasis dolar kini tidak lagi sekadar angan-angan.
Menurutnya, kemajuan teknologi pembayaran digital membuat peluang tersebut semakin terbuka.
"Sekitar 18 bulan lalu saya akan mengatakan ide negara-negara BRICS menciptakan kendaraan keuangan alternatif adalah fantasi. Kini situasinya mulai berubah," kata O'Neill, seperti dikutip Reuters, Selasa (7/7).
Selama beberapa dekade, dolar AS menjadi mata uang cadangan terbesar dunia sekaligus alat pembayaran utama perdagangan internasional.
Baca Juga: QRIS TUNTAS dan QRIS Tap Berbasis NFC Meluncur, Perkuat Dominasi Pembayaran Digital Nasional
Namun, meningkatnya kerja sama ekonomi di antara negara-negara BRICS mendorong berbagai inisiatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang tersebut.
Meski demikian, O'Neill mengingatkan bahwa proses de-dolarisasi masih berada pada tahap awal. Dolar masih menjadi mata uang paling dominan dalam transaksi perdagangan global maupun cadangan devisa bank-bank sentral di berbagai negara.
Menurut dia, BRICS memang memiliki pengaruh simbolis yang besar dalam mendorong perubahan tatanan ekonomi dunia.
Baca Juga: Soundbox QRIS TAP, Inovasi Pembayaran Digital Terbaru
Namun, pencapaian konkret kelompok tersebut masih terbatas, selain keberhasilan mendirikan New Development Bank sebagai lembaga pembiayaan bersama.
Dalam beberapa tahun terakhir, BRICS mulai mengembangkan berbagai alternatif sistem pembayaran. Di antaranya melalui BRICS Pay, integrasi sistem pembayaran nasional seperti UPI milik India, CIPS dari Tiongkok, dan PIX Brasil.
Kelompok itu juga membahas pemanfaatan mata uang digital bank sentral atau Central Bank Digital Currency (CBDC) untuk mempermudah transaksi lintas negara. (din/gas/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online