Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harga BBM Berpotensi Naik Lagi, Pasar Ikut Bingung atas Kondisi di Selat Hormuz

Redaksi • Kamis, 16 Juli 2026 | 12:57 WIB
HARGA MINYAK NAIK LAGI: Tampak truk-truk menunggu untuk memasuki Terminal Kontainer Khor Fakkan di Emirat Sharjah di sepanjang Teluk Oman pada Selasa (14/7). Teheran mengumumkan menutup Selat Hormuz, kemudian Amerika Serikat meresponsnya dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Kondisi memicu naiknya harga minyak dunia. (AFP)
HARGA MINYAK NAIK LAGI: Tampak truk-truk menunggu untuk memasuki Terminal Kontainer Khor Fakkan di Emirat Sharjah di sepanjang Teluk Oman pada Selasa (14/7). Teheran mengumumkan menutup Selat Hormuz, kemudian Amerika Serikat meresponsnya dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Kondisi memicu naiknya harga minyak dunia. (AFP)

LombokPost - Iran menutup Selat Hormuz. Amerika Serikat (AS) membalasnya dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan negara tersebut. Kini, Teheran yang terus-menerus diserang Washington DC mengancam akan menutup jalur krusial distribusi minyak dan gas lainnya: Selat Bab al-Mandab.

Lewat Bab al-Mandab, selat sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, Arab Saudi mengalirkan ekspor minyaknya. Jalur itu pula yang dilewati armada distribusi energi dunia dalam jumlah yang signifikan.

Dampaknya langsung terasa pada harga minyak dunia. Mengutip UNN, per Selasa (14/7), minyak mentah Brent berjangka naik USD 1,43 atau 1,7 persen menjadi USD 84,73 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika menguat USD 1,20 atau 1,5 persen menjadi USD 79,34 per barel.

Baca Juga: Iran dan Oman Gelar Pertemuan Perdana Bahas Pengelolaan Selat Hormuz

UNN juga mengingatkan, bahwa pada awal pekan ini harga minyak dunia sempat melonjak lebih dari sembilan persen hingga menyentuh level tertinggi dalam sebulan setelah muncul laporan mengenai rencana AS memberlakukan kembali blokade laut terhadap Iran.

Jika konflik terus berlanjut, tekanan terhadap rantai pasok energi global diperkirakan akan semakin besar, termasuk potensi kenaikan harga minyak yang dapat berdampak pada inflasi dan biaya energi di berbagai negara. Hal itu harus diwaspadai semua negara, tak terkecuali Indonesia.

Para analis menyebut, pasar juga mengalami kebingungan atas kondisi di Selat Hormuz. Terutama dipicu pernyataan Trump bahwa AS bakal ikut cawe-cawe di jalur yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia tersebut.

Baca Juga: Lintasi Selat Hormuz, Kapal Wajib Kantongi Izin Teheran: Iran Bahas Tata Kelola Bersama Negara Tetangga

Caranya, dengan mengenakan tarif 20 persen untuk semua kapal yang melintasi selat yang memisahkan Iran dengan Oman tersebut.

"Pasar masih bertanya-tanya, 'Apakah kami akan membayar Iran untuk mendapatkan perlindungan atau kami membayar AS saja, juga untuk perlindungan? Dan, berapa persisnya yang harus dibayar?'" kata Andy Lipow, analis di Asosiasi Perminyakan Lipow, seperti dikutip dari AFP pada Selasa (14/7).

Namun, Trump akhirnya menarik ancaman pengenaan tarif 20 persen tersebut.

Baca Juga: Menembus Jalur Konflik 16 Jam, VLCC Pertamina Pride Bersiap Menyusul: Kapal Pertamina Gamsunoro Lolos Blokade Selat Hormuz 

"Semua kapal bebas melintas (di Selat Hormuz), kecuali untuk Iran, dan AS akan mengimplementasikan blokade penuh khusus untuk kapal-kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran," tulis Trump di akun Truth Social-nya.

Beban Subsidi

Meski demikian, menurut pengamat energi dari Energy Shift Institute Putra Adhiguna, pemerintah tetap perlu mulai melakukan pembenahan kebijakan subsidi agar lebih tepat sasaran. Sebab, konsumsi BBM bersubsidi oleh kelompok masyarakat mampu masih cukup besar.

Putra menilai, dengan harga minyak dan nilai tukar rupiah saat ini, beban yang harus ditanggung Pertamina untuk menjaga harga BBM berpotensi meningkat signifikan. “Pertamina bisa menambah beban Rp 300-500 miliar per hari untuk menambal subsidi," sebutnya kepada Jawa Pos, Rabu (15/7).

Sampai dengan Rabu (15/7), pemerintah belum mengeluarkan pernyataan terkait kemungkinan dampak memanasnya kembali kondisi di Timur Tengah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hanya merilis bahwa pihaknya segera menerbitkan regulasi sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto terkait pemberian harga khusus BBM.

Yang disasar adalah pengusaha nelayan yang mengoperasikan kapal berukuran 30 hingga 200 gross ton (GT). Kebijakan tersebut ditujukan untuk menekan beban operasional pelaku usaha perikanan di tengah tingginya harga BBM nonsubsidi.

"Dengan harga Rp 15 ribu ini diharapkan dapat membantu proses operasional bagi nelayan yang mengoperasikan kapal 30 GT ke atas," ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia seusai rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Kabupaten Bogor, belum lama ini. (lyn/bry/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
selat hormuz Amerika Serikat Harga Minyak iran kenaikan