Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

AS Tembaki Tanker, Iran Ancam Perang Bakal Meluas: Trump Desak Teheran Patuhi MoU

Redaksi • Jumat, 17 Juli 2026 | 11:04 WIB
Kapal perang AS dikerahkan kembali dalam blokade laut terhadap Iran di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara. (The Guardian)
Kapal perang AS dikerahkan kembali dalam blokade laut terhadap Iran di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara. (The Guardian)

LombokPost - Amerika Serikat (AS) mulai menembaki kapal-kapal yang melintas menuju Iran. Sebuah kapal tanker minyak diserang dengan rudal Hellfire di Selat Hormuz Kamis (16/7), yang kemudian dibalas dengan gempuran Iran ke pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait.

Mengutip The Guardian, kapal tanker tanpa muatan yang hendak menuju Pulau Kharg itu menjadi sasaran setelah mengabaikan sejumlah peringatan militer AS. Washington DC menyebut, operasi tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Pada saat bersamaan, militer AS juga menggempur pertahanan pantai, lokasi rudal, serta sejumlah sasaran di Teheran, Bandar Abbas, Pulau Qeshm, dan Sirik.

Serangan Amerika juga menjangkau sejumlah wilayah lain. Middle East Eye melaporkan, terjadinya ledakan di Chabahar, Konarak, Rask, Khondab, Khorramabad, dan Semnan.

Baca Juga: Sengit Jelang Laga Piala Dunia 2026, Bos Amerika Serikat Mauricio Pochettino Waspadai Ledakan Bosnia

Direktur Jenderal Kantor Keamanan dan Penegakan Hukum Provinsi Semnan Mahmoud Ghodrati memastikan, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. "Area permukiman tidak menjadi sasaran," ujarnya.

Iran merespons melalui fase ke-10 Operasi Petir. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan, telah menyerang sistem radar peringatan dini C-RAM di Pangkalan Ali Al-Salem dan Kuwait. Selain itu, diserang pula sistem komunikasi dan radar di Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain.

Mengutip Al Jazeera, Juru Bicara Militer Iran Mohammad Akraminia memperingatkan, perang dapat meluas apabila serangan Amerika terus berlanjut. "Jika agresi Amerika berlanjut, perang akan meluas ke arena baru. Sebagian besar kemampuan angkatan bersenjata kami belum ditunjukkan," katanya.

Baca Juga: Kepergian Lima Orang Sekeluarga Akibat Kecelakaan di Tol Malang-Pandaan, Klakson Sudah Dibunyikan untuk Ingatkan Mobil Ishaq yang Oleng

Meski mengeluarkan ancaman tersebut, Akraminia menegaskan, Iran tidak berniat berkonfrontasi dengan negara-negara tetangganya di Timur Tengah.

Menurut dia, Teheran tetap mengedepankan hubungan persaudaraan dengan negara-negara kawasan.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali mendesak Teheran menerima kesepakatan yang ditawarkan Washington.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Bisa Naik Lagi, Amerika Serikat Tetap Berkomitmen pada Perdamaian

Namun, Iran menegaskan, tidak akan lagi terikat pada nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan AS yang telah diteken sebelumnya apabila Washington terus mengabaikan isi kesepakatan tersebut.

“Jika Iran tidak memperoleh manfaat apa pun dari nota kesepahaman ini, kami tidak punya alasan untuk mematuhinya," ujar Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.

Alihkan Fokus

Sementara itu, pengamat Timur Tengah BRIN Nostalgiawan Wahyudi menilai, saat ini AS memang tengah mengalihkan fokus dari isu pengembangan nuklir Iran. Pergeseran perhatian itu disebut terjadi setelah kemampuan nuklir Iran dinilai belum mencapai tahap yang mengkhawatirkan, sementara Selat Hormuz menawarkan kepentingan geopolitik dan ekonomi yang lebih besar.

“Saya kira Iran sangat mengetahui itu dari awal. Selain dia bisa mengontrol politik di Timur Tengah melalui Selat Hormuz, yang kedua, itu merupakan sumber keuntungan yang sangat luar biasa dan ini tengah dilirik oleh Amerika Serikat,” paparnya. (lyn/mia/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
selat hormuz Amerika Serikat kapal iran bahrain