Edisi D’Ladies kali ini akan mengulik profil seorang pelukis pasir pertama di NTB. Dialah Baiq Amalia Putri Ghaesani. Ladies yang akrab disapa Ciku Ghea ini sebelumnya tidak pernah membayangkan akan serius berkecimpung di bidang tersebut.
“Sudah hampir lima tahun menjalaninya,” kata dia, kemarin.
Ditemui di sela-sela kesibukannya, Ladies kelahiran 1995 silam ini menceritakan ketertarikannya menjadi seorang pelukis pasir di 2015 lalu. Berawal saat dirinya menyaksikan penampilan Vina Candrawati, di Ajang Indonesia Mencari Bakat (IMB). Di salah satu stasiun tv swasta. Goresan dan taburan pasirnya berhasil membuat Ghea terkesima.
“Aku saat itu langsung tertarik, dalam hati bilang, nggak begitu susah kok, aku kan punya udah basic aliran realisme, ganti media saja ke pasir, bukan ganti aliran,” terangnya.
Menurutnya pada saat itu, menjadi pelukis pasir membuatnya lebih cepat belajar. Akhirnya atas izin orang tua dan tekad yang kuat, Ghea mulai mencari seluk beluk pelukis pasir, alat, hingga jenis pasir dan yang lainnya di kanal YouTube.
“Awalnya belajar secara otodidak,” tegasnya.
Kemudian dirinya mencari tahu beberapa komunitas pelukis pasir di Bali dan Surabaya dengan berselancar di internet. “Alhamdulillah ketemu, mereka ngasi tahu semuanya, dari jenis pasir dan rekomendasi hal-hal tentang itu,” ucapnya.
Sebelum Ghea serius menggeluti seni luksi ini, ada cerita menarik lainnya kenapa bisa tertarik. Luasnya bentangan pantai di NTB khususnya di Lombok memudahkan dirinya menemukan pasir yang menjadi medianya untuk melukis.
“Ternyata jenis pasir yang digunakan berbeda. Pasir khusus yang digunakan untuk melukis itu namanya silika,“ ucapnya.
Menjadi pelukis pasir menurut Ghea ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Selama hampir setahun, Ghea terus berkutat dengan latihan demi latihan. “Pas lagi mood aja (latihan), soalnya mikir peluangnya kan, ini mau dipakai di acara apa ya, susahnya di situ,” terangnya.
Hingga pada akhirnya, Ghea terpilih sebagai Puteri Pariwisata NTB tahun 2015 dan berhasil lolos ke Jakarta mengikuti malam final. Menjadi pelukis pasir adalah bakat yang ia tampilkan di acara tersebut.
“Rejekinya, aku ketemu teman di sana yang sama juga (pelukis pasir), ketemu yang satu manajemen dengan Mba Vina (pelukis di IMB) dan kami belajar bareng, banyak hal yang aku tahu,” jelasnya.
Sebelum menampilkan bakatnya di Jakarta, pentas pertama Ghea sendiri ternyata di Kota Mataram. Tepatnya di Bandini Koffie. Berawal dari kegiatan penggalangan dana untuknya menuju Jakarta dalam rangka mengikuti final Puteri Pariwisata 2015 tingkat nasional.
“Alhamdulillah uangnya ke kumpul sampai Rp 15 juta, jadinya dari situ orang-orang banyak yang tahu, sampai aku pernah tampil di gereja juga,” terang Ghea.
Perlahan namun pasti. Mulai 2016, dirinya benar-benar menggeluti sebagai pelukis pasir. Dirinya sering diundang tampil dalam acara di Gili Trawangan, Festival Bau Nyale dan kegiatan-kegiatan BUMN yang lain.
“Aku nggak bisa dadakan, karena latihannya ini butuh waktu, biasanya yang aku terima maksimal waktunya dua minggu sebelum pentas, kalau lima atau tiga hari, aku nggak ambil,” ujarnya.
Dia menjelaskan, banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum melukis pasir. Ghea harus membuat storyboard di kertas terlebih dulu. Memudahkannya mengingat bagian demi bagian yang dituangkan ke media pasir. “Dan itu prosesnya lama, latihan pas jam 10 malam ke atas, nyari waktu yang nggak berisik, harus tenanglah,” kata dia.
Belum lagi, pihak panitia kegiatan menyertakan penampilan yang harus diikuti dengan lagu atau mengiringi penyanyi. Itu juga menggunakan teknik khusus. “Makanya latihannya benar-benar fokus, jangan sampai kita yang telat atau keduluan,” ujar Ghea.
Melukis menggunakan media pasir juga membutuhkan kesabaran khusus dan teknik mendasar yang harus dikuasai secara matang. Kadang berdiri hingga duduk terlalu lama. Dan yang paling penting, harus memperhatikan storyboard, karena akan sangat fatal bila lukisannya dihapus.
“Kalau pas off air ya nggak apa-apa masih diedit, pas live itu nggak boleh, kalau kehapus bisa fatal banget,” ujarnya.
Kemudian kendala yang lain adalah cuaca. Ghea juga banyak menerima acara yang digelar dengan konsep outdoor. Dirinya pernah punya pengalaman, saat tampil di acara eks Pelabuhan Ampenan. Dengan kondisi dekat dengan pantai dan angin yang berhembus cukup kencang, membuatnya merasa kesulitan dalam melukis.
“Aku ngomong ke panitianya buat nyediain properti kiri kanan karena kalau ada angin kan otomatis gambarnya nggak jadi, malah pasirnya yang terbang,” terangnya.
Karena aliran yang disukai Ghea adalah realisme, maka hembusan angin harus diminimalisir. Lantaran, selama dirinya berkecimpung di bidang tersebut, teknik yang menurutnya paling susah adalah membuat gambar menjadi lebih hidup.
“Menggambar dimensi lebih susah dengan pasir daripada pensil, apalagi bikin wajah orang, kalau nggak mirip sedikit aja, kita pasti tanya orang, pas live kita harus bisa sendiri,” tegasnya.
Kemudian dari segi alat. Ghea mengakui, menjadi pelukis pasir harus dilengkapi berbagai alat. Namun, kelengkapan tersebut, terkadang tidak diperhatikan pihak penyelenggara. “Biasanya terkendal banget sama budget, makanya kalau aku tampil, aku sesuaikan dengan semuanya,” ungkapnya.
Kendati demikian, banyak pengalaman yang didapatkan Ghea selama menjadi seorang pelukis pasir. Dirinya banyak berbagi ilmu dengan sesama pelukis pasir. “Alhamdulillah, ketemu orang-orang hebat juga,” jelasnya.
Menjadi pelukis pasir pertama di NTB ternyata masih menyisakan banyak tantangan yang harus dihadapi Ghea. Dia bercita-cita membentuk komunitas pelukis pasir di NTB. Ibarat api jauh dari panggang, impian tersebut sampai saat ini belum terwujud.
“Banyak yang mau kursus cuma belum buka, karena budget sama skill harus ada, aku nggak mau orang yang hanya ingin tahu tetapi tidak serius,” ujarnya.
Tidak dipungkiri, menjadi pelukis pasir merupakan seni yang langka, unik dan mahal. Sehingga sangat sedikit orang yang bisa dan membutuhkan tekad yang kuat. “Pernah pas ada orang mau belajar, tanya berapa budget, aku bilang sekian tetapi nggak jadi, kalau mau pasti udah diusahakan,” jelasnya.
Di sisi lain, ada juga keresahannya. Pelukis pasir belum mendapat dukungan dari pemerintah. Misalnya dalam pementasan dalam kegiatan-kegiatan daerah pelukis pasir yang sebenarnya bisa jadi jembatan untuk menceritakan sejarah daerah belum didukung penuh.
Belum lagi menyangkut pariwisata. Ghea mengatakan, destinasi wisata tidak melulu soal pantai atau gunung. Harus juga disertai dengan berbagai macam atraksi dan melukis pasir sangat cocok dan masuk jika dilirik untuk mengenalkan identitas daerah dan budaya. (yun/r10) Editor : Administrator