“Dengan kata lain pertumbuhan ekonominya paling tinggi,” kata Kepala BPS Lotim Ir Lalu Putradi pada awak media, Selasa (9/3).
Laporan tersebut berdasarkan data dalam tabel laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tanpa bijih logam menurut kabupaten/kota tahun 2020. Tanpa menghitung pertambangan di Sumbawa, pertumbuhan ekonomi NTB sendiri minus 5,19 persen.
Pertumbuhan kabupaten lainnya yakni, Lombok Barat minus 7,04 persen; Lombok Tengah minus 6,71 persen; Lombok Utara minus 7,44 persen; Kota Mataram minus 5,51 persen; Kota Bima minus 4,95 persen; dan Dompu minus 3,21 persen. Sementara kabupaten Bima minus 3,49 persen dan KSB minus 3,30 persen.
Putradi menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Lotim menjadi paling rendah minusnya karena sumber penghasilan utama masyarakat tidak di sektor pariwisata. “Melainkan masih pertanian. Hal ini akan berbeda dengan daerah yang sumber utamanya di sektor pariwisata,” terangnya.
Penyebab pertumbuhan ekonomi Lotim mengalami minus 3,10 persen sendiri berasal dari tiga sektor. Pertama sektor pertanian yang mengalami penurunan sampai minus 0,39 persen. Kemudian sektor perdagangan minus 5,39 persen, dan konstruksi minus 14,83 persen.
Minus di sektor pertanian sendiri disebabkan oleh menurunnya produksi sejumlah komoditi. Seperti padi, tembakau virginia, jagung, dan cabai. Sementara konstruksi dipengaruhi oleh penurunan global baik di daerah maupun nasional.
“Penurunan di sektor pertanian dan konstruksi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di sektor perdagangan,” jelas Putradi.
Sekda Lotim HM Juaini Taofik menerangkan, saat ini yang terpenting adalah memperbaiki laju pertumbuhan ekonomi masyarakat. Berdasarkan laporan BPS tentang pertumbuhan ekonomi 2020 tersebut, arah kebijakan pemerintah akan semakin difokuskan pada perbaikan laju ekonomi. “Dinas pertanian juga akan kita minta lebih inovatif,” kata Taofik. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita