MEMPERTAHANKAN usaha tetap eksis puluhan tahun, merupakan tantangan yang tak mudah. Itulah yang dirasakan Bakso Haji Kardi yang ada di Kawasan Bintaro, Ampenan. ”Abi (H Kardi, red) saat 1978 itu berjualan keliling di Pelabuhan Ampenan dan mangkal di Bioskop Ramayana, Simpang Lima Ampenan,” kata anak H Kardi, Utami Ningsih.
Dikatakan saat itu langganan Bakso Haji Kardi terdiri dari orang-orang yang ada di Pelabuhan Ampenan, Bioskop Ramayana, dan Bandara Selaparang. Biasanya kru pelabuhan, bandara, dan penonton bioskop itu menyempatkan menikmati hidangannya. ”Awalnya memang abi membantu pamannya tahun 1970-an, sampai akhirnya pamannya abi minta abi jualan sendiri. Saat itu, abi bisa kumpulin uang yang mulai menyiapkan dan mengolah semuanya sendiri,” jelasnya.
Diceritakan kala itu H Kardi membuat baksonya tidak langsung banyak. Membuat hanya untuk satu hari keliling, yang kurang lebih awal buat pertama itu dari satu kilogram adonan bakso saja. Karena waktu itu belum banyak yang menjual bakso, dibawalah bakso ciri khas Solo serba rempah-rempah. ”Waktu itu masak sendiri dan masih serba manual belum ada mesin giling seperti sekarang,” ujarnya mengenang saat awal merintis.
Yang membedakan bakso H Kardi dengan lainnya pada ciri khas kuah yang disajikan. H Kardi berani memberikan bumbu dan rempah-rempah yang banyak. Walaupun harga bumbu dan rempah mahal, tidak mengurangi standar yang digunakan. ”Takaran bumbu dan rempah tetap sama untuk semua adonannya hingga saat ini,” tambahnya.
Waktu berganti, H Kardi pun akhir mengontrak tempat di dekat Bioskop Ramayana. Tetapi beberapa tahun kemudian pindah ke utara dekat kantor lurah saat ini, karena tempat kontrak pertama akan direnovasi pemiliknya. Cukup lama berjualan di utara Biokop Ramayana, H Kardi pun harus pindah dan ditawari untuk menempati lahan yang ada di Bintaro. ”Kalau untuk tempat sendiri, berarti ada tiga tempat untuk berjualan,” tambahnya.
”Penikmat wisatawan mancanegara, Alhamdulillah sampah sekarang masih ada,” terangnya.
Terus berkreasi, sejak enam bulan lalu menu aneka mie ayam juga dapat dipesan. ”Kita tambah menu, tapi tetap yang olah dan racik umi (istri H Kardi, red),” terangnya.
Sumi, sang istri H Kardi mengatakan semenjak suami sakit tahun 2020 usaha bakso dilanjutkan anak-anak. Namun untuk beberapa adonan dan bumbu masih dirinya bantu racik hingga saat ini. ”Adonan saya siapkan, anak-anak yang menjual di Bintaro,” tambahnya.
Ia pun menngenang harga bakso yang itu Rp 20 per porsi. Terus mengalami kenaikan menjadi Rp 50, Rp 250, Rp 400 tahun 1985, Rp 1000 yang akhirnya pindah ke Bintaro tahun 2000-an harganya saat itu Rp 5.000 per porsi. Saat ini harganya Rp 16 ribu. ”Jatuh bangun pasti kami rasakan saat membangun usaha,” tuturnya.
Ia pun bercerita pernah mengejar beberapa orang berbadan kekar yang makan bakso tapi tidak mau bayar. Kurang lebih satu kilometer dikejar ada yang memberhentikan kendaraan yang digunakan orang-orang tersebut. Sampai akhirnya orang yang berhentikan kendaraan bertanya ada apa ibu-ibu mengejar kendaraan tersebut. ”Saya bilanglah, mereka makan bakso tapi tidak bayar. Untuk saya tidak seberapa itu yang saya putar untuk jalankan usaha. Akhirnya orang-orang itu bayar juga,” ceritanya.
Selain itu juga pernah usaha ini difitnah orang, karena saat itu tengah berkembang laris manis. ”Memang kala itu jualan langsung sepi, bahkan satu adonan tidak bisa habis sehari. Ini berlangsung kurang lebih dua bulanan, yang akhirnya kembali normal,” ujarnya.
Adonan bakso yang dibuat bisa puluhan kilogram. Sebelum pandemi, hari biasanya dalam sehari adonan mencapai 13 kilogram. Sedangkan akhir pekan bisa 20 kilogram adonan. Kini adonan hari biasanya dalam sehari delapan kilogram, sedangkan saat akhir pekan bisa 13 kilogram.
Menurutnya, kunci dalam menjalankan bisnis, dirasakan sama saja. Membuka usaha itu gampang, tetapi mempertahankannya yang butuh perjuangan untuk bisa eksis. ”Kuncinya konsisten, sabar, dan tawakal sama Allah,” tambahnya. (nur/r9)
Editor : Galih Mps