Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pasang Surut Gerabah Banyumulek

Galih Mps • Rabu, 10 Mei 2023 | 13:00 WIB
GERABAH: Tampak hasil perajin gerebah di Yulia Pottery Creative Lombok Handicraf di Dusun Tenandong, Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat, Loteng, Senin (2/1). (Dedi/Lombok Post)
GERABAH: Tampak hasil perajin gerebah di Yulia Pottery Creative Lombok Handicraf di Dusun Tenandong, Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat, Loteng, Senin (2/1). (Dedi/Lombok Post)

BISNIS gerabah memang tak mati, walau pun kini tampaknya mulai meredup. Meski demikian, masih tetap ada beberapa orang yang setia menggeluti industri tersebut.


Haerunnisa salah satunya. Dia adalah pedagang gerabah di Desa Banyumulek, Lombok Barat. Dikatakannya, sekarang sudah tidak seramai dulu dan pengerajin juga semakin berkurang. Ia juga menceritakan  bahwa jauh sebelum pandemi lalu pun gerabah sudah mulai sepi. ”Dulu saya sampai kirim ke Inggris tapi sekarang sudah tidak pernah ada kiriman lagi,” kata perempuan yang sudah berjualan gerabah selama 35 tahun ini.


Pendapatan dari menjadi perajin gerabah juga sudah tidak menarik masyarakat. Masyarakat lebih tertarik dengan pekerjaan lain. ”Perajin muda sekarang sudah tidak ada. Mereka lebih suka cari pekerjaan lain dengan gaji yang lebih banyak. Perajin yang masih paling seumuran saya. Dan itu pun sudah banyak berkurang dan memilih diam di rumah,” kata Haerunnnisa.


Jenis gerabah yang dijualnya tidak berubah dari tahun ke tahun. Ia mengambil dari perajin desa setempat. Jenis yang dijualkan seperti pot, piring kecil, celengan, lampu taman, dan sebagainya. Harga ditarik mulai dari Rp 10.000 sampai Rp 300.000.


Harga saat ini bisa dibilang mengalami kenaikan karena alat yang digunakan sudah semakin canggih. Namun tetap saja untuk proses pembuatan gerabah membutuhkan waktu yang lama. ”Saya pesan ke perajin itu datangnya bisa sebulan,” jelasnya.


”Rp 10 ribu perhari saja itu sudah syukur. Kalo ada turis asing yang beli baru dapat untung lebih karna turis biasanya membeli dengan harga yang lebih mahal,” katanya.


 Ia menceritakan dulu di Pasar Seni sering ada wisatawan yang datang menggunakan bus. Itu memberdayakan perajin juga penjual gerabah di Desa Banyumulek. Namun saat gempa 2018 lalu, Pasar Seni itu seperti tidak terurus.


Terpisah, Putri penjaga Art Shop Gerabah pinggir terowongan Banyumulek merasa masih cukup mujur. Itu tak lepas dari lokasi yang lebih strategis, mudah untuk calon pembeli melihat toko miliknya.


Gerabah yang dijual juga lebih modern dengan paduan desain dan cat. Jenis gerabah seperti piring, kendi, guci, vas bunga, tempayan, celengan, pot, atau untuk hiasan rumah.


Untuk harga, kisarannya sama Rp 10-300 ribuan. Pembeli yang berdatangan pun banyak dari turis asing hingga pemilik resort atau villa, termasuk para wanita untuk keperluan pribadi. ”Biasanya yang dari daerah Senggigi atau sampai gili mereka banyak repeat order,” kata Putri penjaga art shop Minna Lombok Pottery.


”Banyak untung memang dari turis turis ini, karena mereka beli tidak neko neko,”katanya.


Selain itu ia juga menerima pemesanan sebagai souvenir untuk pernikahan. Untuk pemesanan request desain bisa dilakukan jauh hari. ”Harus dipesan dulu agar sesuai dengan keinginan dan itu membutuhkan waktu sekitar tiga minggu lebih,” jelas wanita asal Bengkel ini.


Omset yang dihasilkan maksimal Rp 5 juta per bulan, minimal Rp 2-3 juta. ”Alhamdulillah itu sudah bisa kembali modal,” jelasnya. (cr-chi/r9)

Editor : Galih Mps
#UMKM