LombokPost-Para petani kelapa di Kabupaten Lombok Utara (KLU) tengah mengeluhkan anjloknya harga.
Hal ini menyebabkan mereka enggan menjual kelapanya, dan memilih menyimpan untuk diolah sendiri menjadi minyak goreng.
Kelapa merupakan salah satu komoditas terbesar yang tumbuh baik di KLU. Paling digandrungi petani, terutama yang tinggal di daerah lembah dan perbukitan.
Mereka menggantungkan perekonomiannya dari komoditas ini.
Namun, nasib mereka tidak selalu baik dan beruntung.
Dari tahun ke tahun, harga jual kelapa mengalami pasang surut, meski surutnya lebih sering.
Saat melonjak, harganya kadang menjadi Rp 4.200-4.700 per butir. Sedangkan ketika turun, cukup drastis di harga Rp 1.200-1.500 per butir.
Tentu hal ini cukup miris jika dibandingkan dengan biaya operasional perawatan dan panen komoditas ini.
”Biaya cukup lumayanlah,” ujar salah satu petani kelapa KLU, Sarsih pada Lombok Post, Rabu (13/12).
Meski tak butuh perawatan intensif seperti padi atau kakao, namun pohon kelapa juga membutuhkan perawatan yang baik.
Seperti kebersihan area di sekitar pohon, hingga pupuk yang bagus.
Selain itu, saat panen tiba, pemilik pohon kelapa juga harus membayar biaya pemetik pohon kelapa yang bisa mencapai Rp20-30 ribu per pohon.
Selain biaya upah pemetik, pemilik kelapa juga harus membayar ongkos pemungut dan pengumpul kelapa di tempat yang lebih terjangkau oleh pengepul.
”Tentunya, biaya ini akan memotong hasil panen,” sambungnya.
Kondisi ini bisa lebih parah ketika hasil panen tidak baik. Salah satu penyebabnya adalah hama.
Di KLU, hama ini disebut oreng. Bentuknya kecil dan berwarna putih kekuningan.
Hama ini biasanya muncul pada saat musim kemarau atau kering.
Pada tahun ini, di NTB khususnya KLU, mengalami kekeringan yang cukup panjang dan berdampak pada pasokan air bersih, termasuk juga ladang dan perkebunan.
Kekeringan tahun ini kata Sarsih tidak gambling menyebabkan hasil panen kelapa gagal.
Namun itu memberikan dampak yang signifikan. Di kebunnya, hasil panen tahun ini sangat jauh dibandingkan tahun lalu.
Pada 2022 lalu, hasil panen kebunnya yang seluas 90 are sebanyak 1.000 butir bahkan lebih.
Namun pada tahun ini, dirinya hanya bisa memanen hingga 500 butir saja.
Dirinya sengaja tidak sering melakukan panen dengan harapan hasilnya banyak.
Namun nyatanya, meski panen 3-4 bulan sekali, hasilnya tetap saja jauh dari harapan.
Selain hasil panen sedikit, harga kelapa saat ini juga kian membuat petani mengelus dada.
Harganya bisa saja berubah dalam sehari, bahkan per jam. Untuk saat ini harga kelapa di KLU hanya berada di angka Rp 2.700-2.900 per butirnya.
”Harga tersebut merupakan harga yang dipatok oleh para pengepul di wilayah Tanjung, yang siap dikirim ke bos besarnya,” bebernya.
Anjloknya harga kelapa membuat banyak petani memilih tidak menjual kelapanya.
Terkadang mereka lebih memilih menyimpannya untuk dibuat kopra atau minyak goreng saja.
”Malas panen,” ucapnya.
”Tapi lagi-lagi yang namanya butuh uang, ya kita jual juga akhirnya,” imbuh Sarsih.
Lebih lanjut dikatakannya, sebagai petani di pelosok dirinya sedikit kebingungan.
Dirinya berharap agar ada keterlibatan pemerintah menyejahterakan petani melalui komoditas ini.
Selama ini, mereka hanya berurusan dengan para pengepul saja.
”Harapannya, ya agar ada keterlibatan pemerintah. Apalagi untuk pupuk, harapannya ada subsidi, bantuan, atau pupuk murah,” harapnya.
Ditambahkannya, pohon kelapa ini bisa dimanfaatkan dari akar hingga ujung daunnya.
Terkadang ada pemilik kebun yang tidak sabar, akan lebih menjual pohon kelapa untuk ditebang.
Bahkan ada yang menjual pucuk kelapa pada pengepul yang fokus membeli janur.
”Tapi para pemilik kebun yang lebih memikirkan masa depan, akan tetap merawat pohon kelapa meski terkadang hasil panen tak selalu baik,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Marthadi