Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

NTB Studi Tiru Hilirisasi Cabai di Jawa Barat

Galih Mega Putra S • Jumat, 26 Januari 2024 | 11:05 WIB
STUDI TIRU: Deputi Kepala Bank Indonesia (BI) NTB Winda Putri Listya (kanan) dan Kepala Disdag NTB Baiq Nelly Yuniarti (dua kanan) saat melihat proses hilirisasi cabai di Eptilu
STUDI TIRU: Deputi Kepala Bank Indonesia (BI) NTB Winda Putri Listya (kanan) dan Kepala Disdag NTB Baiq Nelly Yuniarti (dua kanan) saat melihat proses hilirisasi cabai di Eptilu

LombokPost-Dinas Perdagangan (Disdag) NTB bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan KPwBI NTB melakukan kunjungan studi tiru di Eptilu Agro Farm di Kecamatan Cikajang, Garut, Jawab Barat, Rabu (24/1).

Kunjungan tersebut bertujuan mempelajari proses hilirisasi pengolahan komoditas cabai.

Eptilu merupakan salah satu kelompok petani milenial yang merangkul potensi-potensi produktif anak muda daerah. Petani milenial ini diajak untuk sama-sama menjalankan usaha dengan mendirikan agrowisata dan kebun edukasi dengan menerapkan closed loop system.

”Sistem di mana semua pihak terlibat langsung mendampingi petani mulai dari proses produksi,” ujar Kepala Disdag NTB Baiq Nelly Yuniarti.

Dijelaskannya, Eptilu awalnya mengembangkan bisnis produksi cabai, jeruk, dan komoditas hortikultura. Kini Eptilu merambah ke hilirisasi pengolahan cabai dan agrowisata yang memanfaatkan potensi pariwisata daerah.

Klaster cabai Eptilu ini dikembangkan Rizal Fahreza, 31 tahun. Rizal merupakan salah satu petani milenial yang lulus dari IPB dan aktif mengikuti program training pertanian profesional di beberapa negara. Dia memutuskan kembali ke daerah untuk membangun pertanian di daerahnya.

Klaster Cabai Eptilu merupakan klaster champion lulus WUBI juga binaan Bank Indonesia sejak 2014 lalu. Klaster ini mempunyai berbagai prestasi, di antaranya mendapatkan penghargaan Klaster Award Nasional pada PTBI 2023.

Selain itu, klaster ini membantu program KAD ke berbagai daerah, seperti Banten, Pontianak, Batam dan Bangka Belitung. Klaster Eptilu juga membantu program GNPIP tidak hanya di Jawa Barat, namun luar provinsi, termasuk yang terakhir DKI Jakarta.

Melalui studi tiru ini, Nelly berharap pengelolaan lahan pertanian agro melalui sistem koperasi ini nantinya bisa diimplementasikan di NTB.

”Ke depan, masing-masing kabupaten/kota melalui TPID akan mulai mempersiapkan dan menginventarisir lahan masing-masing dengan melibatkan petani milenial,” terangnya.

Hal ini bertujuan untuk meningkatkan produksi. Di samping itu, juga mampu membuka lapangan pekerjaan. Sehingga nantinya dapat meminimalisir angka kemiskinan dan pengangguran di NTB.

”Tentunya hal tersebut membutuhkan kolaborasi dengan banyak pihak dan kebijakan yang mendukung kegiatan ini,” tandasnya.

Kepala KPwBI NTB Berry Arifsyah Harahap mengatakan, kegiatan studi tiru di Klaster Champion Eptilu di Garut, merupakan upaya peningkatan produktivitas pangan sektor pertanian di NTB. Klaster Champion Eptilu sendiri merupakan binaan BI Jawa Barat yang berhasil mengembangkan bisnis model Hulu ke Hilir.

”Klaster Eptilu yang dimotori oleh Rizal yang berhasil menjadi percontohan success story Petani Milenial melalui dua strategi utama yaitu peningkatan ekonomi petani dan perbaikan agribisnis,” jelasnya.

Melalui kunjungan tiru ini, TPID NTB diharapkan bisa mereplikasi keberhasilan Klaster Eptilu untuk pengendalian inflasi melalui ketersediaan pasokan. Klaster Eptilu juga berkontribusi dalam penyediaan pasokan daerah di luar Jawa Barat, bahkan sampai Sumatera.

”Klaster ini juga berhasil mendorong kesejahteraan masyarakat dengan membuka lapangan pekerjaan baru,” pungkasnya. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#Disdag NTB #disdag #Inflasi