Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Siap-Siap, Harga Telur Hingga Minyak Goreng Berpeluang Naik

Galih Mega Putra S • Selasa, 26 Maret 2024 | 13:50 WIB
OPERASI PASAR MURAH: Komoditas telur yang dihadirkan dalam kegiatan operasi pasar murah, belum lama ini.
OPERASI PASAR MURAH: Komoditas telur yang dihadirkan dalam kegiatan operasi pasar murah, belum lama ini.

LombokPost-Pada Maret ini, sejumlah komoditas pangan strategis diprediksi mengalami kenaikan harga.

Meski di sisi lain, komoditas beras, aneka cabai, dan bawang merah mulai mengalami penurunan harga.

Wakil Ketua TPID NTB Berry Arifsyah Harahap mengatakan, perkembangan pusat informasi harga pangan strategis (PIPHS) menunjukkan sejumlah komoditas pangan strategis mengalami kenaikan harga.

Di antaranya daging ayam, telur dan minyak goreng.

”Harga beras terpantau perlahan kembali turun seiring mulai adanya panen di beberapa sentra, termasuk harga aneka cabai dan bawang merah,” bebernya.

Sementara untuk gula, harganya terpantau masih lumayan tinggi.

Hal ini seiring dengan panen tebu yang diperkirakan baru terlaksana pada Juni mendatang.

Berdasarkan data per Februari 2024, harga daging ayam naik di kisaran Rp 39 ribu per kilogram.

Untuk telur, hargnya naik di kisaran Rp 31 ribu per kilogram.

Sedangkan minyak goreng, harganya naik di kisaran Rp 19 ribu per liter.

”Untuk telur, kita bersama klaster mencoba memberikan harga terbaik,” tandasnya.

Indeks Perkembangan Harga (IPH) NTB pada pekan ketiga Maret 2024 kabarnya mengalami kenaikan. Kenaikan ini disumbang sejumlah komoditas pangan.

Paling besar disumbang oleh komoditas telur ayam ras, beras, daging ayam ras, hingga minyak goreng.

”Selain itu, ada juga bawang putih, cabai merah, cabai rawit, gula pasir, bawang merah dan juga daging sapi,” ujar Kepala Biro Perekonomian Setda NTB H Wirajaya Kusuma.

Dijelaskannya, BPS telah memaparkan tinjuan inflasi dan IPH pekan ketiga Maret 2024 dalam Rakor onine bersama Kemendagri, (25/3).

Kelompok makanan, minuman dan tembakau, serta kelompok transportasi merupakan kelompok dominan penyumbang inflasi pada Ramadan dan Idul Fitri setiap tahunnya.  

Irjen Kemendagri sendiri mengarahkan agar dilakukan enam upaya penanganan inflasi.

Di antaranya operasi pasar murah, sidak pasar, kerja sama dengan daerah penghasil komoditi untuk kelancaran pasokan, gerakan menanam, merealisasikan belanja tidak terduga (BTT), dan dukungan transportasi dari APBD.

Berdasarkan catatan Kemendagri, baru 16 pemda yang melakukan upaya tersebut.

Sebanyak 64 pemda baru melakukan empat hingga lima upaya, 222 Pemda baru melakukan satu hingga tiga upaya, dan 214 pemda belum melakukan satu upaya pun.

”Kemendagri juga meminta agar operasi pasar murah tidak hanya seremonial tapi dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dengan mengumumkan ke masyarakat luas,” bebernya.

Selain itu, Irjen Kemendagri juga menekankan agar upaya pengendalian inflasi melalui 4K terus dilaksanakan.

4K tersebut di antaranya ketersediaan pasokan, keterjangkuan harga, kelancaran distribusi pasokan, dan komunikasi yang efektif. (fer/r9)

 

Editor : Kimda Farida
#ramadan #Cabai #komoditas