LombokPost-Sejumlah pelaku industri di sentra cokelat, Kampung Cokelat Senara, Desa Genggelang, Gangga, Kabupaten Lombok Utara (KLU) mengikuti pembinaan, Rabu (5/6).
Kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari ini merupakan bagian dari program One Village One Product (OVOP).
Pembinaan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produk cokelat local. Sehingga mampu bersaing di pasar nasional dan internasional.
Menghadirkan narasumber dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Kabupaten Jember, Jawa Timur, Edi Suharyanto.
”Kegiatan ini didanai oleh anggaran SKD Disperin NTB,” ujar Kepala Bidang Industri Diskoperindag KLU Abdul Mukhtar.
Dikatakannya, KLU memiliki potensi bahan baku yang melimpah. Baik itu, cokelat, vanili, kopi, madu, dan komoditas lainnya.
Dirinya menekankan pentingnya mengembangkan potensi daerah dengan mengolah bahan baku menjadi barang setengah jadi, maupun barang jadi.
”Tugas kita adalah bagaimana mengembangkan potensi yang ada di daerah,” sambungnya.
”Bagaimana petani cokelat ini mengembangkan usaha taninya dengan menjalin kerja sama dengan pihak luar sebagai mitra,” tandasnya.
Kepala Disperin NTB melalui Kabid Kerja sama Arifin mengatakan, kegiatan pembinaan ini dilaksanakan secara lebih prioritas dan terfokus pada wilayah serta pasar tertentu. Sehingga hasil yang dicapai dapat terukur, akuntabel, efektif, dan efisien.
”KLU sangat kaya dengan hasil alam seperti madu, buah duren, vanili, cokelat, kopi, dan lainnya,” ujar dia.
Dijelaskannya, OVOP merupakan metode pendekatan dalam pengembangan potensi di satu wilayah.
Tujuannya untuk menghasilkan produk kelas global yang unik dan khas daerah dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Pembinaan OVOP ini dilaksanakan untuk mendukung pembangunan usaha ekonomi kreatif lokal masyarakat yang potensial. Selain itu juga mendorong kreativitas produksi, dan pengembangan usaha sebagai produk makanan khas Lombok NTB.
”Keberhasilan pada pengembangan sektor ini dapat berdampak pada SDM, membuka lapangan pekerjaan, serta dapat meningkatkan pendapatan IKM di NTB,” terangnya.
Kriteria pengembangan OVOP harus mampu memberdayakan produk yang bersumber dari bahan lokal unik, menjadi kebanggaan daerah. Selain itu, produk tersbut juga nantinya memiliki nilai jual tinggi.
Ditambahkannya, sasaran akhir dari OVOP yakni membuat IKM di sentra semakin mandiri.
SDM di sentra menjadi semakin profesional, dengan institusi pendukung semakin kuat, motivasi, kreativitas, dan inovasi semakin berkembang.
Di samping itu, jumlah kreasi produk IKM yang unik dan khas daerah semakin banyak. IKM semakin sehat, kuat, dan berkembang, sehingga lapangan kerja di sektor IKM semakin banyak. Kontribusi IKM terhadap PDB/PDRB semakin meningkat, dan pemerataan pembangunan ke seluruh wilayah Indonesia semakin meningkat.
”Kualitas hidup masyarakat juga semakin meningkat,” katanya.
Melalui pembinaan ini, para pelaku IKM di Sentra Cokelat Lombok Utara diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk mereka.
Selain itu juga menjalin kerja sama yang lebih luas, serta mampu berinovasi untuk mengembangkan usaha lebih baik lagi. (fer/r9)
Editor : Redaksi Lombok Post