Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harga Melonjak, Produksi Kopi dan Kakao di Lombok Utara Malah Turun

Galih Mega Putra S • Sabtu, 8 Juni 2024 | 12:27 WIB
PRODUKSI MENURUN: Seorang petani menunjukkan kopi di kebunnya, beberapa waktu lalu. (IST/LOMBOK POST)
PRODUKSI MENURUN: Seorang petani menunjukkan kopi di kebunnya, beberapa waktu lalu. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost-Permintaan pasar terhadap komoditas kopi dan kakao mengalami peningkatan.

Sayangnya, hal ini justru tidak didukung dengan peningkatan hasil produksi petani.

Produksi kopi dan kakao tahun ini diperkirakan justru mengalami penurunan.

Salah seorang petani kopi asal Lombok Utara Tarmizi mengatakan, harga kakao atau cokelat mencapai titik tertinggi sejak Mei lalu.

Saat ini, rata-rata harga komoditas kakao mencapai Rp 100 ribu per kilogram.

”Kalau kopi itu di kisaran Rp 55 ribu sampai Rp 60 ribu per kilogram,” ujarnya, Jumat (7/6).

Dikatakannya, lonjakan harga ini terjadi lantaran permintaan pasar yang meningkat.

Selain itu, juga karena produksinya yang menurun pada tahun ini.  

Hal itu merupakan akibat adanya faktor serangan busuk buah yang sulit terkendali.

”Rata-rata petani mengalami persoalan yang sama,” ujar pria yang juga penyuluh pertanian lapangan di Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara ini.

Dijelaskannya, ada beberapa faktor yang memengaruhi naik turunnya produksi kakao.

Di antaranya, persoalan lahan, modal, tenaga kerja, pupuk, bibit, keadaan cuaca/iklim dan pestisida.

”Petani bisa meningkatkan produksinya dengan melakukan sanitasi kebun, pemeliharaan, pengendalian HPT, dan pemupukan,” terangnya.

Sementara yang memengaruhi harga kakao di antaranya tingkat produksi di daerah, transportasi, permintaan pabrik, kualitas, tingkat konsumsi konsumen.

Terpisah, Kepala DKP3 Lombok Utara Tresnahadi mengatakan, berkurangnya produksi komoditas kopi dan kakao lantaran serangan lalat buah dan jamur akar putih (JAP).

Selain itu juga disebabkan faktor iklim yang extrem pada tahun ini.

Sedangkan soal lonjakan harga, hal itu biasanya terjadi lantaran permintaan yang meningkat.

Sementara stok komoditas kopi dan kakao di petani tidak mencukupi permintaan pasar tersebut.

”Meski begitu, kami tetap meminta seluruh PPL DKP3 untuk rutin turun ke lapangan mendampingi dan memberikan edukasi kepada petani,” pungkasnya. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#coklat #kopi