LombokPost--Produk kopi asal Desa Santong Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara ini terbilang unik.
Namanya Kopi Ully Lasingan, sebuah produk kopi beraroma nangka.
Produk milik Gangga Niasih ini, biji kopinya ditanam petani kopi di dataran dengan ketinggian 800 meter di atas permukaan laut.
“Ada kopi robusta dan ada arabika juga,” ujarnya.
Gangga Niasih mulai merintis usahanya sejak 2015 lalu dan semakin eksis sejak 2017.
Saat ini dirinya telah memiliki empat orang karyawan yang membantu produksi.
Dalam memproduksi Kopi Ully Lasingan, perempuan berhijab ini mengambil bahan baku langsung dari petani kopi setempat.
Berbeda dengan kopi Lombok Utara lainnya, Kopi Ully Lasingan ini terkenal dengan jenis robustanya yang bercitarasa lebih kuat dan aroma yang unik.
Keunikan aroma Kopi Ully Lasingan ini adalah beraroma nangka.
Hal ini kemungkinan terbentuk lantaran di perkebunan kopi dikelilingi banyak pohon nangka di sekitarnya.
“Jadi kopi itu dominan rasa nangka, rasa buah buahan,” terangnya.
Gangga Niasih menjual produk kopinya dalam dua bentuk. Yakni berupa kopi bubuk dan biji kopi roasting, baik itu robusta maupun arabika.
Perbedaan harga jual kopi arabika, sekitar 20 persen lebih mahal dibandingkan kopi robusta.
Mahalnya harga jual kopi jenis arabika ini, lantaran standar pasarnya, serta cita rasa yang berbeda.
“Arabika lebih soft dan lebih asam rasanya, kalau robusta lebih tinggi rasa kafeinnya,” tutur dia.
Kopi Ully Lasingan dijual dengan harga mulai dari Rp 25 ribu per 100 gram. Sedangkan untuk kopi arabika mulai dari harga Rp 30 ribuan per 100 gramnya.
Sejauh ini, Gangga Niasih mengaku belum pernah mengalami kendala penjualan maupun bahan baku.
Meski harga jual kopi di dunia saat ini sedang mahal.
“Kendalanya itu hanya di modal saja, masalah bahan baku aman, penjualan juga oke karena pasar kita sudah ada,” jelasnya.
Berbicara soal pemasaran, produk Kopi Ully Lasingan ini sudah bisa menembus pasar luar negeri. Produk Gangga Niasih ini sudah masuk di mall dan pasar online Malaysia.
Selain itu, Kopi Ully Lasiingan ini juga telah dikirimkan ke Australia meski belum ekspor skala besar.
“Tapi kontinyu permintaannya, karena setiap pulang (pembeli, Red) selalu bawa kopi, hanya saja orang-orang itu kendalanya tidak bisa bawa banyak. Itu adalah bahasanya oleh-oleh, jadi hanya bisa dibawa di bawah 10 kilogram,” bebernya.
“Setiap bulan itu ada saja permintaan (pengiriman ke luar negeri, Red) biasanya sekitar 50 pcs saja, karena memang banyak barang lain yang dibawa jadi terbatas ,” terangnya.
Selain pasar luar negeri, dirinya juga tetap memperhatikan pasar dalam negeri.
Dirinya bahkan belum lama ini menerima permintaan produk dari Alfamart dan e-Mart.
Namun hal ini belum bisa dipenuhi lantaran permintaan di pusat oleh-oleh juga cukup banyak.
“Sebulan saya bisa produksi 300 kilogram kopi,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida