LombokPost-Bank Indonesia (BI) NTB mendorong semakin banyak komoditas lokal bisa diekspor. ”Kita mendorong produk-produk lokal bisa kita ekspor untuk menjaga nilai tukar kita tetap stabil,” ujar Kepala BI NTB Berry Arifsyah Harahap.
Dikatakannya, BI terus berupaya membangkitkan pengembangan komoditas-komoditas lokal yang memiliki potensi ekspor. Seperti vanili, kopi, hingga kemiri yang diekspor belum lama ini oleh salah satu UMKM NTB. ”Kita terus mengembangkan program-program yang bisa kita ekspor, karena memang salah satu tujuan Bank Indonesia adalah di nilai tukar,” sambungnya.
Dalam mendorong pengembangan komoditas yang bisa diekspor, BI NTB telah melakukan beberapa upaya. Di antaranya, memfasilitasi studi UMKM binaan. Lalu koordinasi dengan calon pembeli luar negeri, pelatihan peningkatan mutu dan pengolahan, pendampingan legalitas usaha, hingga dukungan alat atau sarana dan prasarana produksi. ”Melalui business matching dengan buyer luar, bisa memperbesar kesempatan produk lokal NTB bisa ekspor. Seperti pelaku UMKM kemiri yang sudah mengekspor ke Jeddah, Arab Saudi di awal tahun ini,” terangnya.
Lebih lanjut, pengemasan menjadi salah satu poin penting ketika melakukan ekspor. Untuk bisa memenuhi standar pengemasan ekspor, pemerintah daerah hadir terkait hal tersebut. ”Izin (UMKM binaan, Red) juga dibantu OPD terkait sehingga kita bisa lakukan ekspor,” tandasnya.
Sekda NTB Lalu Gita Ariadi mengatakan, ada banyak komoditas lokal yang perlu didorong untuk ekspor. Selain kopi, jagung, vanili, dan kemiri, bisa juga dilirik potensi pengembangan kenari dan biji asam. ”Tolong kenari, biji asam, dan lainnya, semoga ada inovasi besok dari Kepala Bank Indonesia NTB untuk pasar asam dan kenari kita,” ujarnya.
Agar ekspor komoditas lokal tetap berkelanjutan, dirinya berharap adanya upaya menjaga ketersediaan bahan baku di hulu. Sebab itu, dirinya mendorong pemerintah daerah setempat untuk mengantesi bahan baku komoditas ekspor di kawasan masing-masing. ”Saatnya kita menambah pohon, sekarang harus seimbang, jadi buat lagi komitmen kita menanam, tapi bukan menanam yang sia-sia. Harus ada keuntungan ekonomi jangka pendek yang bisa didapatkan,” pungkasnya. (fer/r9)
Editor : Akbar Sirinawa