Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Produksi Virgin Coconut Oil, MND Gunakan 1,5 Juta Butir Kelapa Per Bulan

Geumerie Ayu • Rabu, 12 Februari 2025 | 13:10 WIB

BAZAR UMKM: Produk VCO UMKM MND dan produk lainnya yang dihadirkan dalam kegiatan bazar UMKM di Tanjung, beberapa waktu lalu.
BAZAR UMKM: Produk VCO UMKM MND dan produk lainnya yang dihadirkan dalam kegiatan bazar UMKM di Tanjung, beberapa waktu lalu.
LombokPost- Kabupaten Lombok Utara (KLU) merupakan salah satu daerah produsen kelapa yang besar di NTB.

Kelapa tersebut kemudian diolah oleh UMKM setempat sehingga menjadi beberapa produk turunan.

Salah satunya, Virgin Coconut Oil (VCO) yang menjadi produk unggulan di kabupaten termuda di NTB tersebut.

Salah satu UMKM KLU yang memproduksi VCO adalah Manfaat Nyiuh Daya (MND) di Tanjung.

Ketua kelompok UMKM MND Raden Sukawati menuturkan, produksi awal mereka hanya sebanyak 25 butir kelapa. Pengerjaannya pun dilakukan secara manual.

Namun seiring perjalanan waktu, dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki, dirinya mampu mengolah 500 hingga 800 butir kelapa per hari.

“Kami menerapkan SOP sangat ketat kepada kelompok mitra kami, dan kami tekankan yang dijual ini bukan produk semata, tapi kejujuran,” ujarnya.

Dijelaskannya, setiap 15 butir kelapa tua bisa menghasilkan 1 liter VCO.

Untuk menghasilkan VCO yang bagus, harus menggunakan kelapa yang berkualitas.

Kelapa paling berkualitas berada di tepi pantai hingga yang berjarak 1 kilometer dari bibir pantai.

“Setelah satu kilo meter dari pantai biasanya memiliki kadar air tinggi dan kadar minyak yang terdapat pada buah kelapa akan semakin berkurang,” jelasnya.

Saat ini, MND memproduksi sekitar 8-10 ton VCO dalam sebulan.

Artinya, dibutuhkan sekitar 1,5 juta butir kelapa untuk diolah menjadi VCO.

Jenis kelapanya adalah yang kering di atas pohon. Selain VCO, Raden juga memproduksi produk minyak kelapa.

“Kapasitas produksi VCO kami sebelum pandemi 5-7 ton dan minyak kelapa 3-5 ton per bulan.

Kami menghabiskan sekitar 1,5 juta butir kelapa setiap bulannya,” beber Raden.

“Tapi itu secara keseluruhan bekerja sama dengan kelompok mitranya. Jika di pabrik hanya bisa produksi sekitar 150 butir kelapa per hari dengan menggunakan mesin,” imbuhnya.

Raden menjelaskan perbedaan mendasar antara VCO dan minyak goreng.

Salah satunya, pada proses pembuatan keduanya. Pembuatan VCO tidak melalui pemanasan.

Sedangkan pembuatan minyak goreng melalui pemanasan, baik dengan api  langsung maupun dengan air menidih.

Walaupun sudah ada metode lain yang lebih canggih, Raden masih mempertahankan cara manual untuk memproduksi VCO-nya.

“Sudah diuji di Baristan Surabaya, dan membuktikan hasil yang manual lebih baik, makanya kita pertahankan,” terangnya.

 “Penggunaan mesin kami hanya gunakan untuk proses pemarutan dan pemerasan sedangkan proses pembuatan VCO nya kami masih pertahankan cara manual,” tambahnya.

Produksi minyak kelapa yang dibuat pihaknya diklaim Raden nol kolesterol lantaran sudah diuji sebelumnya.

Selain itu, bisa digunakan hingga 7 kali pemakaian, tanpa merusak kandungan yang terdapat dalam minyak goreng kelapa.

“Minyak kelapa yang kami buat nol kolesterol, dan itu sudah hasil uji,” tegasnya.

Terkait anggapan minyak kelapa lebih mahal, Raden tak menampik itu.

Namun jika dilihat dari sisi penggunaan dan kandungannya, harga seharusnya tidak menjadi persoalan besar.

Minyak kelapa dapat digunakan hingga tujuh kali dengan kualitas yang masih sama.

“Bandingkan jika minyak goreng dari sawit, sebenarnya tidak boleh lagi dipakai setelah satu kali penggunaan, karena kandungannya sudah rusak dan banyak kolesterol,” jelasnya.

Untuk pemasaran, Raden menjual di daerah Surabaya dan Jakarta.

Jika ada teman-teman eksportir, pihaknya hanya minta FOB Surabaya.

Pengiriman FOB seperti ini memang jauh lebih besar keuntungannya tapi risiko buat UMKM, karena modal yang pas-pasan.

“Jika ada eksportir yang ingin kerja sama, kami menyiapkan produk di gudang, ke luar dari gudang itu sudah urusan eksportir, sedangkan harga bisa kita bicarakan,” terangnya.

Lebih lanjut dikatakannya, potensi bisnis kelapa di KLU sangat besar.

Masih banyak bagian lain dari kelapa yang bisa diolah menjadi produk ekonomis.

Seperti batok, sabut kelapa, air kelapa dan lainnya, belum dimanfaatkan dengan baik. (fer/r6)

Editor : Kimda Farida
#UMKM #Minyak Kelapa #batok kelapa #sabut kelapa #Virgin Coconut Oil #manual #kelapa