Sebab efisiensi anggaran berpotensi memberi dampak signifikan pada sepinya industri Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition (MICE).
“Kalau soal efisensi pasti kita kena,” ujar Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB Sahlan M Saleh, Senin (17/2).
Meski begitu Sahlan menegaskan, pihaknya tidak ingin menyerah begitu saja.
Terobosan-terobosan akan dilakukan untuk mengisi sektor lainnya yang diisi oleh pemerintah selama ini.
Seperti mendekati kalangan swasta agar datang melaksanakan MICE.
“Kita akan terus melakukan pendekatan dengan korporat-korporat untuk datang melakukan rapat,” sambungnya.
Terobosan lainnya, meningkatkan hunian hotel dengan leisure.
Kemudian memaksimalkan sport tourism yang menjadi salah satu andalan NTB.
Kedua hal tersebut diyakini mampu mengangkat okupansi hotel.
Sahlan mengakui jika MICE memiliki pengaruh yang sangat besar dalam memutar roda sektor pariwisata NTB.
Ketika terjadi refocusing anggaran, tentunya dampaknya juga akan besar.
“Kami dapat informasi dari hunian Hotel itu sekitar 20-30 persen yang pada mulanya 70-80 persen,” bebernya.
Pengurangan okupansi tersebut dinilainya sangat drastis.
Dampaknya, kata Sahlan sangat besar sekali dan mengganggu investasi pariwisata NTB.
Di tengah kondisi tersebut, BPPD terus membantu supaya semua hunian hotel ini terus meningkat.
Caranya, tidak hanya fokus pada MICE saja, tetapi pangsa pasar lain berupa perusahaan-perusahaan besar di Nusantara.
“Kita bangkitkan ini adalah sektor leisure dan sport tourism, dua potensi besar inilah dimiliki Lombok yang kita kejar,” terangnya.
Terkait anggaran untuk BPPD NTB, pihaknya belum mendapatkan informasi terkait pengurangan.
Namun pihaknya berharap, anggaran untuk operasional BPPD tetap ada.
“Tahun lalu kita dapat hibah Rp 1 milliar, dan sekarang belum kita dapatkan informasi berapa,” tandasnya. (fer/r6)
Editor : Kimda Farida