Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BBPOM Mataram Temukan Sampel Pangan Ramadan yang Dijual Pedagang Positif Boraks

Geumerie Ayu • Kamis, 6 Maret 2025 | 09:59 WIB

INWAS RAMADAN: Kepala BBPOM MATARAM Yosef Dwi Irwan (kiri) bersama Kadikes Kota Mataram Emirald Isfihan saat melakukan Inwas Ramadan di pusat kuliner Majapahit, Rabu (5/3).
INWAS RAMADAN: Kepala BBPOM MATARAM Yosef Dwi Irwan (kiri) bersama Kadikes Kota Mataram Emirald Isfihan saat melakukan Inwas Ramadan di pusat kuliner Majapahit, Rabu (5/3).
LombokPost- BBPOM Mataram bersama Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan, serta Satuan Karya Pramuka Pengawas Obat dan Makanan (SAKA POM) melaksanakan kegiatan intensifikasi pengawasan (Inwas) pangan selama Ramadan hingga Idulfitri 1446 H di Mataram, Rabu (5/3).

Kegiatan ini merupakan komitmen pemerintah dalam melindungi masyarakat dari pangan yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK).

Seperti rusak, kedaluarsa, mengandung bahan berbahaya, tanpa izin edar dan tidak memenuhi ketentuan label.

Momen Ramadan membuat sentra-sentra kuliner takjil ramai diburu masyarakat.

Geliat ekonomi kerakyatan ini tentunya harus dikawal untuk memberikan rasa aman dan nyaman, khususnya bagi umat muslim dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan

Kepala BBPOM Mataram Yosef Dwi Irwan mengatakan, kegiatan Inwas Ramadan ini telah kami lakukan terpadu dengan stakeholder sejak 24 Februari hingga 5 Maret.

BBPOM telah melakukan pemeriksaan terhadap 24 sarana distribusi makanan, seperti distributor, grosir, retail modern dan pasar tradisional di wilayah Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur.

“Seluruhnya Memenuhi Syarat, tidak ditemukan produk pangan yang TMK” ujarnya.

“Bukan berarti pengawasan yang kami lakukan hanya saat bulan Ramadan saja ya, kami tetap rutin melakukan pengawasan keamanan pangan setiap harinya, hanya saja pada periode tertentu seperti Ramadan, Idul Fitri ataupun Nataru kegiatan pengawasan lebih kami tingkatkan karena biasanya kebutuhan masyarakat akan pangan meningkat” jelas Yosef.

Selain melakukan pemeriksaan sarana distribusi pangan, Tim BBPOM di Mataram dengan Mobil Laboratorium Keliling melakukan sampling dan uji cepat (rapid test) terhadap sampel pangan yang dicurigai mengandung bahan berbahaya.

Seperti Formalin, Boraks, Rhodamin B dan Methanyl Yellow.

“Hari ini Tim Terpadu menyisir sentra takjil di kawasan Jl. Airlangga, Jl. Majapahit dan Jl. Panji Tilar, sebanyak 50 sampel makanan takjil seperti aneka lauk pauk, aneka kue dan gorengan, bakso, cilok, kerupuk, sambal pelecing, es warna merah, saos, dan lainnya,” terangnya.

“Telah dilakukan uji cepat (rapid test, Red), dan hasilnya 49 sampel bebas dari bahan berbahaya dan 1 sampel kerupuk terigu yang disampling di Jl Airlangga yang positif Boraks” imbuhnya.

Sebelumnya, BBPOM telah melakukan sampling dan uji cepat (rapid test) terhadap 75 sampel makanan.

Seperti tahu, cendol, cumi, ikan asin, mie basah, terasi, kerupuk, kolang kaling, bakso, ikan segar, udang, ayam, cilok, dan lainnya di Pasar Mandalika, Pasar Jelojok dan Pasar Renteng.

Hasilnya 69 sampel bebas dari bahan berbahaya, dan masih ada 6 sampel yang positif Boraks.

Di antaranya, 3 sampel kerupuk terigu dan 3 sampel mie basah.

Hingga tanggal 5 Maret, tercatat telah dilakukan uji cepat terhadap 125 sampel makanan.

Hasilnya, 118 sampel atau 94,4 persen bebas dari bahan berbahaya, dan 7 sampel atau 5,6 persen positif Boraks

“Berdasarkan penelusuran untuk kerupuk terigu yang positif Boraks diakui pedagang ada yang berasal dari Jawa namun ada juga produksi lokal,” bebernya.

“ Namun sebagian kerupuk lokal yang kita uji sudah bebas Boraks, artinya pelaku usaha sudah mulai memiliki kesadaran untuk berubah. Nanti kita dorong untuk dapat mengurus izin PIRT di Dinas Kesehatan, agar masyarakat jadi lebih mudah memilih jika ingin membeli kerupuk terigu, pilih yang sudah punya Nomor PIRT” imbuhnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram Emirald Isfihan menyampaikan, kandungan bahan berbahaya seperti Boraks mengakibatkan gangguan kesehatan.

Salah satunya efek karsinogenik yang dapat memicu terjadinya kanker

“Selain bebas dari bahan berbahaya, harus dipastikan makanan takjil ini bebas dari cemaran lainnya, pedagang harus memastikan makanan yang dijual tertutup karena lokasi berada di tepi jalan raya sangat memungkinkan terkontaminasi debu ataupun asap kendaraaan” ujar Emirald.

“Dinas Kesehatan juga mendorong para pelaku industri rumah tangga untuk mendaftarkan produknya agar memiliki Nomor PIRT, termasuk nanti untuk produsen kerupuk terigu yang berkomitmen tidak lagi menggunakan Boraks dapat kami dampingi untuk mendapatkan izin PIRT” lanjut Kadis Kesehatan Kota Mataram.

Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang arti penting Obat dan Makanan yang aman, Tim menyebarkan brosur terkait Keamanan Pangan, Cek KLIK (Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar dan Cek Kedaluarsa), aplikasi BPOM Mobile kepada pedagang dan konsumen.

Selain itu dilakukan display contoh-contoh produk kosmetik, obat bahan alam ilegal dan pangan mengandung bahan berbahaya agar masyarkat tidak membeli produk- produk yang beresiko terhadap kesehatan. (Geumie)

Editor : Kimda Farida
#ramadan #Takjil #sampel makanan #Bahan Berbahaya #intensifikasi pengawasan pangan #Sampling #PIRT #kanker #pasar #BBPOM #Rapid test #pusat kuliner #1446 H #memenuhi syarat #Sarana #makanan #Pangan